Demokrasi, Biang Pencitraan yang Membahayakan Umat

    Oleh : Irianti Aminatun

    Cinta kekuasaan memang fitrah dalam diri manusia. Tapi bagaimana meraih dan mempertahankan kekuasaan, sangat tergantung pada pemahaman seseorang terhadap kekuasaan itu. Bagi yang beranggapan bahwa demokrasi adalah keniscayaan sejarah, maka ia akan meraih kekuasaan melalui jalan demokrasi.

    Demokrasi sejatinya adalah alat bagi para pemilik modal baik dari Barat (asing) maupun dari Timur (aseng) untuk menguasai negeri-negeri muslim.

    Melalui demokrasi dengan instrumen utama media masa sangat mudah mempengaruhi opini masyarakat dalam pemilihan pemimpin negara. Akibatnya lahir pemimpin yang tidak otentik. Dia terpilih karena pencitraan.

    Calon pemimpin yang dianggap ‘aman’ oleh pemilik modal akan dicitrakan sebagai pemimpin yang layak untuk dipilih rakyat melalui berbagai cara. Terjadilah simbiosis mutualisme. Calon pemimpin butuh modal untuk kampanye, pemilik modal butuh penguasa yang kebijakannya menguntungkan usahanya. Contoh penguasa semacam ini banyak.

    Tahun 1955, kawasan Timur Tengah  menjadi arena perebutan penjajahan antara Inggris dan Amerika. Mesir saat itu dibawah kepemimpinan Gamal Abdul Naser berada dibawah dominasi Inggris. Dengan kepiawaian Amerika Serikat Gamal Abdul Naser dicitrakan sebagai sosok pembebas penjajahan.

    Naser memainkan slogan “kemerdekaan” dan mengadopsi “Nasionalisme Arab”. Naser pun dielu-elukan oleh seluruh bangsa Arab. Sampai sampai bangsa Arab meyakini bahwa Naser adalah pahlawan agung yang diutus oleh Allah untuk menyelamatakan bangsa Arab dari penjajahan.

     Naser hanyalah contoh kecil politik pencitraan untuk kepentingan Amerika Serikat. Maka cita-cita Naser tidak pernah menjadi kenyataan. Sebaliknya yang terjadi hanyalah pemindahan penjajahan bangsa Arab dari tangan Inggris ke tangan Amerika.

    Demikianpun dengan penguasa negeri ini saat ini. Klaim-klaim kesuksesan seperti keberpihakannya kepada rakyat kecil,  divestasi 51 % saham Freport, menurunnnya angka kemiskinan, keberhasilan pembangunan infrastruktur, hanya wajah pencitraan, agar bisa melanggengkan kekuasaannya dengan terpilih kembali pada pilpres 2019.

     Kenyataanya rakyat negeri ini semakin susah. Rupiah terus melemah, harga sembako melangit, dan besaran hutang sudah sampai pada tahap miris. Sementara Freport tetap berkuasa di tambang emas Papua. Pembangunan infrastruktur juga bukan untuk rakyat kecil,  cengkeraman asing semakin kuat. Sungguh negara berada diambang kehancuran.

    Melalui demokrasi, lahirlah negara yang dikontrol oleh korporasi yang mengeruk habis kekayaan negeri. Dominasi korporasi terhadap negara semakin mencengkeram setelah korporasi multinasional turut bermain. Mereka turut menentukan siapa yang menjadi pemimpin sebuah negara dan apa kebijakan negara tersebut. Inilah bahaya demokrasi, negara kehilangan kedaulatan. Jadi bagaimana mungkin negara bisa mensejahterakan rakyat jika kedaulatannya saja hilang?.

    Bertolak belakang dengan demokrasi, Islam membimbing manusia untuk meraih kekuasaan dengan cara yang benar. Sehingga membawa kesejahteraan rakyat dan rahmat bagi seluruh alam.

    Rasulullah saw diutus oleh Allah Ta’ala sebagai teladan. Beliau telah memberi teladan mengatur sebuah negara.  Agar bukan hanya membawa kesejahteraan bagi warga negaranya tetapi juga menjadi rahmat bagi semua. Menyelamatkan manusia baik di dunia maupun akhirat.

    Rasulullah saw sebelum di utus oleh Allah SWT telah memiliki citra – bukan pencitraan– yang baik di tengah masyarakat. Sampai-sampai masyarakat Arab saat itu menggelari Rasulullah dengan “al Amin”. Tapi Rasulullah berupaya meraih kekuasaan saat itu dengan menawarkan konsep yang jelas ke tengah masyarakat yaitu konsep  Islam.

     Rasulullah  menawarkan islam kepada masyarakat kafir Quraisy tapi ditolak. Rasulullah juga menawarkan ke bani-bani yang ada di jazirah arab, tapi mereka juga menolak. Sampai pada akhirnya masyarakat Madinah siap menerima Rasulullah sebagai Kepala Negara bagi mereka.

    Rasulullah lalu mendirikan negara Islam di Madinah. Sejak tiba di Madinah, Rasul membangun masjid sebagai tempat shalat, berkumpul, bermusyawarah dan mengatur berbagai urusan kaum muslimin sekaligus memutuskan perkara yang ada di antara mereka. Kaum Muslim senantiasa berkumpul di sekitar Baginda dan  merujuk semua persoalan kepada Beliau.

     Rasulullah juga  membangun perekonomian di Madinah dengan mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshor, menempatkan warga Madinah yang tidak memiliki tempat tinggal di serambi masjid , mengikat perjanjian dengan Yahudi yang berada di Madinah.

    Setelah Rasulullah berhasil membangun masyarakat dengan gemilang dan membentuk ikatan perjanjian  bersama tetangga-tetangganya dari kalangan Yahudi, Rasul mulai menyiapkan atmosfir jihad di Madinah. Karena tugas Islam adalah menerapkan Islam secara total di seluruh negeri yang diperintahnya dan mengemban dakwah Islam ke luar batas teritorial negara.

    Hanya dalam waktu kurang lebih 10 tahun seluruh jazirah Arab telah berada di bawah naungan negara islam yang dipimpin oleh Rasulullah SAW. Negara yang dibangun oleh Rasulullah sanggup merubah jazirah Arab dari sebuah wilayah yang terus terlibat konflik antar suku, menjadi sebuah negara yang kokoh dan berperadaban tinggi serta siap menjadi  negara adidaya.

    Sepeninggal Rasulullah, kepemimpinan Islam dilanjutkan oleh para Khalifah, hingga daulah Islam menguasai hampir dua pertiga dunia dengan menebar rahmat. Kesuksesan Khilafah menyejahterakan dunia diakui oleh Will Durant dalam The Story of Civilization yang menggambarkan bagaimana sistem islam mampu mensejahterakan bagi umat manusia, Muslim maupun non-Muslim.

     “Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukannya dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam wilayah yang sangat luas.

     Fenomena seperti ini belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan tersebar luas, hingga berbagai ilmu, sastera, filsafat dan seni mengalami kemajuan luar biasa, yang menjadikan Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad”

    Demikianlah, jika sebuah negera ingin menjadi sebuah negara yang maju, dibutuhkan  sosok pemimpin yang berkarakter serta konsep kepemimpinan sesuai Islam, bukan pemimpin dengan pencitraan politik.

    Allah SWT berfirman yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu….” (TQS al Anfal ayat 24). Wallahua’lam bi showab.

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.