Deislamisasi di Pelajaran Agama atas Nama Melawan Radikalisme

    22

    (Oleh : Astuti Djohari Mahasiswa STKIP Kusuma Negara Jakarta)

    Hampir setiap decade sistem pendidikan di Indonesia mengalami perubahan yang sangat masif, perubahan itu sendiri dari segi kurikulum maupun peraturan lainnya yang manakala tiap pergantian mentri pendidikan maka akan terjadi pula perubahan didalamnya entah itu perubahan kurikulum atau perubahan sistem pendidikan itu sendiri.

    Pendidikan agama adala salah satu pertimbangan orang tua menyekolahkan atau menitipkan anak-anak mereka pada lembaga pendidikan entah itu lembaga pendidikan formal maupun nonformal,karna untuk menghadapi era milenial 4.0 yang berdampak pada perkembangan psikis ataupun tingkah laku anak yang mana pula sangat membuat resah para orang tua karena banyak sekali dampak yang lebih condong kearah negative di era sekarang ini sehingga salah satu benteng atau tameng yang paling kokoh adalah dengan menanamkan nilai agama pada anak sejak dini sehingga tidak heran juga zaman sekarang banyak sekali berseliweran sekolah-sekolah dengan metode pembelajaran yang Islami yang mana mata pelajaran agama lebih dominan dibanding mata pelajaran umum lainnya,adapula sisi besebrangan yaitu terlihat pendidkan agama disekolah umum sangat dibatasi waktunya.

    Pelajaran agama yang kita ketahui seperti : Fiqih, Aqidah akhlak, Al-Quran hadist dan SKI (Sejarah Kebudayaan Islam ) adalah mata pelajaran yang dimasukan di dalam kurikulum di skolah yang berbasis agama dan nantinya akan diujiankan juga layaknya ujian nasional (UN). Tapi beberapa waktu lalu sempat menjadi buah bibir di masyarakat dengan adanya pemberitaan dari KEMENAG (Kementrian Agama)

    Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag) menyatakan, tidak ada lagi materi tentang perang dalam pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di madrasah. Hal itu diimplementasikan pada tahun ajaran baru 2020.

    “Kita akan hapuskan materi tentang perang-perang di pelajaran SKI tahun depan. Berlaku untuk semua jenjang, mulai dari MI (madrasah ibtidaiyah) sampai MA (madrasah aliyah),” kata Direktur Kurikulum Sarana Prasarana Kesiswaan dan Kelembagaan (KSKK) Madrasah Kementerian Agama, Ahmad Umar, di Jakarta, Jumat, (13/9). (republika.co.id)

    Kemenag atau Kementrian Agama telah mengeluarkan sebuah peraturan yang mana pelajaran agama seperti SKI (Sejarah Kebudayaan Islam) yang berbau peperangan akan dihapuskan. Yang menjadi perbincangan khayalak ramai adalah Kemenag seakan merasa takut jika siswa-siswi Madrasah setelah selesai pembelajaran SKI menjadi Anarkis,Intoleran ataupun Radikal. Sungguh sebuah ironi jika suatu lembaga yang notabene background lembaga  Islam malah takut dengan agamanya sendiri takut akan ajarannya sendiri, memonsterisasi agamanya padahal kisah peperangan juga banyak disebutkan dalam Al-Quran sebagaimana dalam surah Al Baqarah ayat 216

    “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah suatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. 

    Pada ayat ini menggambarkan tentang sebuah peperangan,jikalau ada yang menolak adanya ajaran peperangan maka secara tidak langsung dia juga menolak isi Al-Quran karna sudah sangat jelas dalam Al-Quran menjelaskan tentang itu,karna pada zaman dahulu identic dengan peperangan dan sebuah hal yang lumrah dan tidak serta merta ummat Islam mengajak orang untuk berperang tanpa ada sebab dan akibat. Islam sebuah agama yang muliah sangking muliahnya Islam bahkan dalam peperangan pun sudah ada aturan-aturannya seperti pada sabda Rasulullah berikut :

    “Janganlah kalian membunuh orang tua yang sudah sepuh, anak-anak, dan wanita…” (HR. Abu Dawud 2614, Ibnu Abi Syaibah 6/438, dan al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra 17932).

    Aturan peperangan ini bukan hanya isapan jempol semata bukan pula layaknya dongeng pengantar tidur seperti kisah Cinderella dan sepatu kacanya, tapi ini adalah sebuah fakta yang  justru dari kisah-kisah tersebut akan membangkitkan ghiroh perjuangan generasi yang akan datang bahwasannya Islam adalah agama yang penuh dengan ukhuwah,Islam adalah agama yang penuh perdamaian dan cinta kasih  bahkan dalam hal peperanganpun Islam sudah ada atutannya. Lantas untuk apa dihapuskannya materi tentang peperangan tersebut? Apakah dengan diajarkannya materi peperangan dengan secara otomatis siswa akan mengangkat senjata untuk berperang? Apakah ada indikasi siswa akan melakukan tindakan anarkis setelah selesai proses pembelajaran?

    Sangat ironis DEPAG (Departemen Agama) yang seharusnya menjadi kiblat pendidikan agama di Indonesia tiang penyangga pendidikan Islam malah mereka yang menciptakan citra jelek pada ajaran agamanya sendiri. Dan keputusan terkonyol ialah ingin menghilangkan jejak-jejak sejarah yang mencerikan tentang sebuah pengorbanan sejati yang tidak bisa dibayar dengan emas,perak berlian sekalipun yang bisa membayar hanyalah JannatulFirdaus. Kalau kita hanya  menceritakan tentang kegemilangan Islam saja maka kita lupa ada suatu pengorbanan yang harus dibayar bukan hanya dengan harta ataupun benda bahkan nyawa sekalipun sebagai taruhannya. mengutip kata-kata Soekrno “JASMERAH (Jangan sekali-kali melupakan sejarah)” Wallahualam bishowab

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.