Darurat Minuman oplosan, Negara ke mana?

130

Oleh: Ummu Nadiatul Haq (Member Akademi Menulis Kreatif 4)

Korban tewas akibat mengonsumsi minuman keras (miras) oplosan bertambah. Tercatat, sejumlah 89 orang tewas menenggak miras oplosan di dua wilayah, yakni di Jawa Barat dan Jakarta.

“Korban sampai hari ini di wilayah hukum Polda Jabar sebanyak 58 orang. Sementara di wilayah hukum Polda Metro Jaya sebanyak 31 orang. Total 89 orang,” kata Kepala Divisi Humas Polri, Inspektur Jenderal Polisi Setyo Wasisto di kompleks Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jumat, 13 April 2018.

Sebelumnya, hingga Kamis siang, 12 April 2018, sudah ada 41 orang tewas karena miras di Cicalengka, Jawa Barat. Sisanya 181 orang mengalami lemas dan dirawat di rumah sakit.

Sementara itu, untuk wilayah hukum Polda Metro Jaya, terdapat 31 korban tewas akibat menenggak miras oplosan ini. Sebanyak 36 orang dirawat di DKI Jakarta dan sekitarnya.(viva.co.id,  jum’at 13 April 2018).

Sejak hari senin, 9 April 2018 tiap hari kita mendengar dari televisi dan membaca dari media internet, nyawa yang melayang akibat miras oplosan bertambah setiap hari.

Senin 9 april 2018 beritanya “miras oplosan pencabut nyawa” 11 nyawa melayang karena minuman keras oplosan di cicalengka, Bandung jabar.  Berita siang nya di indosiar ada 16 orang yg kehilangan nyawa. Menurut warga yang di wawancara tempat membuat minuman oplosan ini sudah 5 tahun beroperasi.

Berita seperti ini sepertinya akan terus hanya jadi bahan pembaca berita menyampaikan kejadian-kejadian di masyarakat tanpa ada solusi yang bisa menyelesaikan permasalahan ini.  Dari hari ke hari bahkan detik ke detik permasalahan selalu berulang dan semakin bertambah banyak, sistem sekuler ini tidak mampu mengatasinya. Sistem ini memisahkan agama dari kehidupan, sehingga hukum untuk menyelesaikan kasus kasus yang terjadi di buat oleh manusia dimana pasal-pasal nya bisa di gonta ganti tergantung hasil rapat pembuatan kebijakan dalam sistem ini.

Berulangnya kasus miras oplosan menunjukkan ketidakseriusan dalam menuntaskan kerusakan moral generasi akibat miras.  Generasi penerus peradaban yang cemerlang saat ini sulit di wujudkan karena moralnya sudah rusak, sepertinya jadi khayalan saja untuk saat ini ketika ingin mewujudkan generasi yang bermoral tinggi, cerdas dan kreatif, karena dengan miras otak pecandu akan rusak sehingga akal sehat sudah tidak berjalan, yang terjadi pada mereka hanya kasus kriminal dan nyawa melayang.  Dengan miras tidak hanya diri nya sendiri yang jadi korban, orang-orang yang ada di sekitarnya bisa jadi sasaran kejahatan mereka.

Penguasa demokrasi sekuler neolib cenderung abai pada urusan moral yang di anggap privat, prinsip kebebasan individu yang dijamin oleh demokrasi.

Di peradilan ketika di adakan sidang untuk menyelesaikan masalah pembunuhan misalnya, biasanya hanya di penjarakan beberapa tahun. Dan biasanya setelah keluar dari penjara tidak akan membuat jera pelaku, dia akan mengulangi perbuatannya kembali karena di masyarakat sudah di cap sebagai pelaku kriminal “sudah kepalang basah “istilah nya.

Berbeda ketika hukum islam yang diterapkan, pelaku yang membunuh akan dijatuhi hukum qishas. Hukuman qishash (hukuman mati) untuk pelaku pembunuhan, ini ada dalilnya, yaitu QS Al-Baqarah: 178. Ini termasuk jinayat.

Dengan hukuman seperti ini, tentu akan membuat pelaku ditebus dosa pembunuhannya dan bagi orang lain yang melihat hukuman ini akan merasa takut dihukum seperti itu, sehinga dapat mencegah orang lain berbuat yang sama.

Dalilnya hadits shahih bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, ”Barangsiapa yang dihukum karena melakukan [maksiat], maka hukuman itu adalah penebus dosa baginya.” (fa-man ‘uuqiba bihi fa-huwa kaffaratun lahu). (HR. Bukhari).

Bagaimana dengan miras, bagaimana islam menyelesaikan para pecandu miras?

Miras atau minuman keras termasuk minuman yang memabukkan yang bisa membuat kecanduan bagi penikmat nya.

Hadis Ibnu Umar yang mengatakan “Segala yang memabukkan adalah khamer, dan segala yang memabukkan hukumnya haram.”(H.R. Abu DAud dari Ibnu Umar).

Q.S. Al-Maidah 90 “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya meminum (khamer), berjudi (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”

Dalam Hadits

“Dari Anas RA. Bahwasanya nabi Muhammad SAW, menjilid (melaksanakan hukuman had) dengan menggunakan pelepah kurma dan sandal. Kemudian Abubakar menjilid 40 kali. Ketika sampai pada giliranya Umar, sedangkan manusia mulai berdatangan dari pedesaan, beliau bertanya: apa pendapatmu tentang penjilidan terhadap masalah khamer? Seraya Abdurrahman bin Auf menjawab: aku melihat bahwa engkau menjilid dengan hukuman had yang paling ringan. Maka selanjutnya Umar menjilid sebanyak 80 kali.”

Miras jelas merusak moral, Islam mengatur urusan moral, termasuk di dalamnya menjaga akal sebagaimana urusan-urusan lainnya.  Hanya dengan penerapan islam kaffah, menyeluruh mencakup semua aspek kehidupan, menjamin terjaganya moral masyarakat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.