Dakwah Idelogis Di Tengah Liberalisasi Informasi

205

Oleh : Ummu Tsabita (Pegiat  Sekolah Bunda Sholihah, Malang)

Di tengah sistem Kapitalis yang menggurita saat ini, marak kita melihat realitas yang rusak di tengah masyarakat atau kebijakan penguasa yang merugikan umat . Sudah menjadi tabiat seorang muslim untuk bergerak mengkritisinya. Tujuannya, tidak lain agar bisa berkontribusi memperbaikinya, sesuai Islam tentunya.  Namun apa jadinya, jika data yang disajikan tidak valid, atau justru informasi  palsu (hoax) yang kita sebar?  Alih-alih upaya ini akan memperbaiki keadaan, malahan bisa menjerumuskan dan merugikan. Baik bagi pengemban dakwah atau umat yang dipapar informasi tersebut.

Hasil survey MasTel (Masyarakat Telematika Indonesia) Pebruari lalu tentang hoax, hasilnya bahwa media sosial menjadi sumber utama peredaran informasi palsu. Saluran penyebaran nya adalah aplikasi pesan singkat (seperti Line, WhatsApp atau Telegram) 62,8 persen, situs web 34,9 persen, televisi 8,7 persen, media cetak 5 persen, email 3,1 persen,  dan radio 1,2 persen. “Hoax sengaja dibuat untuk mempengaruhi opini publik dan kian marak lantaran faktor stimulasi seperti sospol dan SARA.  Hoax ini muncul karena biasanya  masyarakat menyukai yang heboh” ujar ketua umum MasTel, Kristiono, Jakarta (Liputan6.com, 13/2/2017).

Yang jelas hasil survey dari MasTel menunjukkan bagaimana sikap responden ketika menghadapi sumber berita yang tidak jelas. Ternyata masih ada sekitar 1 persen yang tetap saja meneruskan hoax tersebut. Walaupun sekitar 83,2 persen sudah dengan sigap memeriksa kebenaran berita,  dan 15,9 persen langsung menghapus dan mendiamkannya.  Tidak semua orang  mau repot untuk meluruskan, jika dia tahu telah beredar hoax di tengah masyarakat.  Apalagi di tahun “panas” ini,  politik pencitraan menjadi-jadi. Demi terbentuknya opini yang menguntungkan pihak tertentu dan  menjegal lawan, ada saja yang bermain kotor.

Jadi teringat  sebuah pernyataan -yang bikin panas kuping penguasa- dari Rocky Gerung,  Peneliti Perhimpunan Pendidikan Demokrasi, “ Pembuat hoax terbaik adalah penguasa, karena mereka memiliki seluruh peralatan untuk berbohong.  Intelijen dia punya, data statistik punya,  media punya.”  Sehingga  bisa berbohong dengan sempurna.  Hal itu disampaikannya pada acara ILC tvOne, (17/1/2017).  Apa kesimpulan anda?  Bisa jadi sepakat, bisa juga tidak. Up to you …

Hoax Diproduksi Masif dalam Sistem Liberal Kapitalis

Gejala kemunculan hoax itu dimulai pada era kebebasan (liberalisasi) memproduksi informasi  melalui internet.  Bukan untuk bermaksud menghakimi internet sebagai media yang sangat bermanfaat untuk perkembangan ilmu pengetahuan, bahkan bagi dakwah Islam.  Namun tidak bisa dipungkiri, meledaknya hoax di tengah masyarakat justru dipicu oleh internet. Setiap pengguna internet diizinkan untuk menciptakan informasi apa saja. Statistik ketersediaan informasi sangat lah mencengangkan.  “Setiap  60 detik, terdapat 700.000 pencarian di Google, 695.000 status baru di Facebook, 98.000 status Twitter, 1.500 tulisan blog, 600 lebih video diunggah ke Youtube, dan statistik mencengangkan lainnya” –Go-Globe.com. Bisa dibayangkan derasnya ?

Sayangnya , tidak sedikit informasi ini dilatarbelakangi oleh kepentingan yang tidak bertanggung jawab,  baik dalam bidang ekonomi atau politik.  Berita palsu kadang diterbitkan untuk berburu “klik” agar menghasilkan uang dalam waktu singkat. Hoax juga dimanfaatkan untuk kepentingan propaganda dalam kancah politik. Dan memang untuk kepentingan politik itulah, orang sengaja menciptakan hoax. Tujuannya jelas untuk ‘menghantam’ lawan kubunya.

Arus informasi yang demikian deras dan bebas, bisa saja menyebabkan kesalahan menyikapi. Pada anak muda -yang sekarang susah jauh dari gadgetnya- mungkin sekali terbawa arus dan melumpuhkan sikap kritis sebelum bertndak.. Menyibukkan mereka dengan hanya sekedar like, share , atau sedikit komentar .  Bahkan tidak sedikit yang saling caci maki .   Yang lebih mengkhawatirkan,  terjadi setting Barat imprealis yang justru menyingkirkan kedudukan Islam, dan menyumpal benak pemuda Islam dengan tsaqofah asing yang merusak . Lihat saja, tsaqofah dan gaya hidup Islam yang mulia telah sejajar bahkan digantikan oleh gosip , iklan produk dan informasi gaya hidup Barat di pikiran mereka.

Kembali bicara soal  hoax, tentu tidak lepas dari pola pikir dan karakter sebagian masyarakat yang mengidap ‘penyakit’  FoMO (Fear of Missing Out).  Takut  ketinggalan sesuatu , dalam hal ini tren berita, sehingga mendorong orang merespon cepat kabar yang ia dapatkan. Mudah terpengaruh dan cenderung membenarkan berita jika itu pemikiran tokoh atau sosok yang mereka dukung. Lalu mengatakan hoax pada berita yang menyudutkan pemikiran yang mereka sukai.  Tanpa diteliti terlebih dahulu masalah kebenaran beritanya.  Ini menjadi celah yang banyak dimanfaatkan oknum -yang tidak bertanggung jawab- untuk membuat berita hoax, dengan dibantu teknologi dalam merekayasa berita atau gambar sehingga seolah-olah terlihat asli.

Menurut pakar komunikasi dari Universitas Indonesia, Irwansyah (2017), fenomena informasi hoax menunjukkan belum baiknya penerimaan masyarakat dalam menyikapi informasi. “Konstruksi informasi atau berita hoax memang disengaja. Sebab, pada dasarnya memang ada kepentingan di balik produksi informasi ini”, menurut beliau.  Maraknya berita palsu disebabkan karena para pembuat hoax memiliki akses ke dunia maya yang baik. Pelaku pun dinilai memiliki latar belakang pendidikan yang baik namun memproduksi informasi yang dapat memicu emosi dan alam bawah sadar pembaca. (UI Lib vol.3,2017).  Jadi agak nyambung ya, sama pendapat Rocky Gerung. Nah !

Tapi sebenarnya, hoax itu  bisa dikenali dari beberapa hal yang melekat padanya, seperti kata Septiaji Eko Nugroho dari Masyarakat Indonesia Anti Hoax  kepada KompasTekno.com  (8/1/2016) di Jakarta :

  1. Hati-hati dengan judul sensasional yang provokatif.
  2. Cermati alamat situs. Apakah ada tautan ke sumber resmi ? Berita hoax biasanya dari situs yang tidak jelas siapa penanggung jawabnya, apakah perorangan, lembaga, atau lainnya.. Dari catatan Dewan Pers, ada 43.000 situs  yang mengklaim dirinya sebagai portal berita,  tapi yang terverifikasi hanya 300 situs.
  3. Periksa fakta. Bedakan antara fakta dan opini yang bersifat subyektif.
  4. Cek keaslian foto, atau bisa jadi gambar dan  video yang dipakai merupakan rekayasa, atau bahkan tidak nyambung dengan berita atau faktanya. Misalnya, hasil editing dari sumber asli yang dibuat asal saja.

Saat ini, menurut pasal 28 ayat 1 UU ITE ancaman sanksi bagi yang telah dengan sengaja menyebarkan berita bohong dan menyesatkan adalah pidana maksimal 6 tahun atau denda maksimal 1 miliar rupiah. Cukup berat, tapi tetap saja hoax dan informasi rusak menyebar di masyarakat.  Dampaknya bisa memicu perselisihan, keributan serta disharmoni di masyarakat.  Pertanyaannya, kalau penguasa  dan kroninya yang sebar hoax kena sanksi tidak? Entahlah.

Dakwah dan Sikap Kritis Ideologis

Menjadi kewajiban seorang muslim untuk tidak diam terhadap “kebengkokan” dan kesesatan informasi.  Apalagi terkait dngan problema mutakhir umat, betul-betul mengharuskan dakwah yang masif dan mencerahkan.  Rasul bersabda: “…. Siapa saja yang tidak memperhatikan urusan kaum muslimin maka ia tidak termasuk golongan mereka (kaum muslimin).” (HR. Al- Hakim  dan al- Khatib dari Hudzaifah ra.).

Adalah vital agar para pengmban dakwah selalu mampu menyikapi dan memberi solusi atas berbagai peristiwa yang menimpa umat, baik skala regional, nasional maupun internasional.    Karena dampak penerapan sistem Kapitalis yang dipaksakan di tengah umat Islam, telah menimbulkan banyak korban. Tapi kesadaran umat belum terbentuk secara baik, karena arus kerusakan telah dikemas sedemikian rupa.  Membuat umat masih enggan meninggalkan , lalu  menggantinya dengan pemikiran dan sistem  Islam.  Dibutuhkan kemampuan men-counter opini rusak dan menyuguhkan solusi bernas persfektif Islam. Agar bisa menjawab persoalan yang menghujam di tubuh umat.  Tentu tidak elok ketika dakwah dibumbui oleh hoax atau ujaran kebencian. Atau dipenuhi oleh sumpah serapah kepada pribadi orang yang berseberangan dengan perjuangan Islam.

Kalau demikian, tentu diam jauh lebih baik. Karena dakwah yang serampangan tentu kontra produktif dengan tujuan-tujuan dakwah yang mulia.  Kewajiban para hamlud  dakwah untuk menyampaikan pemikiran Islam yang tinggi, sekaligus informasi yang yang terpercaya alias valid.  “ Ketika pemikiran yang tinggi justru tidak didukung dengan informasi valid, malas kroscek sumber, asal share, dan copas tergesa-gesa, bagaimana mungkin orang akan melihat ketinggian pemikiran Islam dalam menjawab berbagai persoalan keumatan? “ tulis Fika Komara (Chanel Muslimah Negarawan, 12/4/2018) .

Betul sekali, Islam pun telah memerintahkan setiap muslim untuk ber-tabayyun ,

Wahai orang-orang yang beriman, jika ada seorang fasiq datang kepada kalian dengan membawa berita penting, maka tabayyun-lah (teliti dulu)….” (TQS. Al Hujurat: 6).

Maka ada 2 hal penting dilakukan dalam membuat narasi dakwah   sebagaimana mengenali hoax yang tersebar,  yaitu :

  1. Validasi berita atau info

(a) tidak mudah percaya pemberitaan dari internet. Mencoba mengasah sikap kritis. Terapkan itu selalu saat menerima berita.  Cek apakah ada sumber aslinya dan adakah tautan ke sumber resmi yang berhak menyebarluaskan berita tersebut. (b)  Jangan hanya percaya pada satu sumber. Ketika kita menemukan berita penting, yang menurut kita layak disebarluaskan, tahan dulu keinginan untuk itu. Kembali lakukan pengecekan ke sumber-sumber yang lain yang dapat dipercaya.

  1. Validasi Pemikiran yang terkandung

Validnya data belum tentu menjamin apa yang disebarkan benar, dari segi pemikiran. Penting mengetahui angle yang dibuat produsen informasi, karena biasanya sangat dipengaruhi oleh ideologi dan kepentingan pemilik media.

Vital di sini, agar narasi dakwah lurus dan kuat, dan bergizi untuk menyehatkan pemikiran umat , maka harus ada sudut pandang Islam untuk mengganti angle yang disebar media kapitalis.

  1. Membuat narasi untuk membangun opini Islam. Dua hal yang penting di sini yaitu kemampuan kontekstualisasi dan kekuatan sudut pandang. Kontekstualisasi tidak lain adalah bagaimana menjadikan Islam bisa masuk dan diterapkan secara baik dan pas dengan konteksnya. Hal ini menuntut penguasaan detail masalah, penguasaan sejarah dan informasi kekinian. ( Fika Komara, Muslimah Negarawan , hal. 99 – 101).

Islam mewajibkan kepada umatnya untuk selalu kritis kepada penguasa. Untuk mengoreksi dan menyampaikan kebenaran kepada mereka. Tanpa ada rasa takut terhadap celaan atau sanksi, karena kritis ini didasari niatan karena Allah (lillah) . Sebagaimana bai’at kaum muslimin pada Rasulullah pada Bai’at Aqobah kedua  : ” Dan hendaklah kami menyampaikan kebenaran di mana pun kami berada, tidak takut karena Allah (atas) celaan orang-orang yang mencela “. (HR. Bukhari dan Muslim dari Ubadah bin Shamit ra)

Dalam hadits yang lain, Rasulullah SAW bersabda : “Penghulu para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Mutholib dan orang-orang yang berdiri di hadapan penguasa yang zhalim, memerintahkannya (yang ma’ruf), dan melarangnya ( dari perbatan munkar), dan  ia (pemimpin tersebut) membunuhnya.” (HR. Hakim dari Jabir ra).

Hadits ini merupakan pernyataan paling ekstrim, menekankan keberanian menghadapi bahaya kematian dalam mengoreksi jalannya kekuasaan.

Sedikit gambaran, ketika beredar berita pernyataan seorang menteri soal cacing berprotein, tentu cepat viral.. Apalagi dari pihak yang berseberangan. Jelas ini sebuah persoalan serius yang penting disikapi sesuai Islam. Tapi jangan terburu share dan komen, pastikan pernyataan itu memang ada, persisnya seperti apa, hati-hati upaya framing atau menjebak dari kubu yang ingin menjatuhkan aktifis Islam. Sebagaimana, kasus yang menimpa Jonru tahun lalu.

Atau kasus beredarnya kaos ber #2019GantiPresiden. Faktanya ada, tapi angle untuk menyikapinya bisa berbeda. Tergantung pemikiran dan pemahaman yang menyebar berita. Di sini , bisa ambil faktanya, ganti angle nya dengan Islam ideologis. Semoga menjadi persfektif alternatif, yang solutif.

Khatimah

Kritis yang dipadukan dengan validitas fakta dan kemampuan memberi solusi bernas kepada umat, tentu menjadikan dakwah yang diemban terasa  “sesuatu  yang bergizi”  di tengah derasnya informasi kemungkaran.    Sesuatu yang sederhana yang dikemas dengan sudut pandang “kamera” yang pas , bisa membuat  masyarakat kaget , tercerahkan dan menjadi sebuah  booming .   Opini umum yang benar , akan menjadi arus masif yang meningkatkan taraf berpikir umat.  Itu harapan setiap pengemban dakwah di setiap masa. Cita-cita mengembalikan umat pada ketinggian pemikirannya, in sha Allah bukan impian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.