DAKWAH DIBUNGKAM, NASIB UMAT MAKIN SURAM

    155

    Ekky Marita, S.Pd (Pendidik)

    Radikalisme masih menjadi trending topik di jajaran kabinet baru yang terbentuk. Pasalnya, isu ini kerap dijadikan sumber perpecahan bangsa maupun intoleransi. Seakan akar masalah yang menimpa negeri adalah radikalisme tanpa memperhatikan maraknya kriminalitas akibat ekonomi liberal, korupsi tak kunjung usai, permasalahan generasi yang kian hari semakin brutal nan amoral, dan berbagai bencana seperti karhutla belum mendapatkan solusi.

    Di sisi lain, menyuarakan kebenaran, membongkar fakta rezim dan dakwah menjadi sasaran empuk tuduhan radikal. Para aktivis, ulama dan kaum muslimin menjadi terdakwa atas kasus ini. Bahkan hal ini menimpa pada ASN yang hanya mengunggah postingan berujung pada pemecatan sepihak.

    Dikutip dari CNN Indonesia (16/10/2019) “Jakarta – Plt Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Tjahjo Kumolo mengatakan baru saja memberi sanksi disiplin berupa pencopotan jabatan atau non job terhadap Aparatur Sipil Negara (ASN) yang mengunggah konten pro khilafah di media sosialnya.

    “Salah satu pegawai di Kanwil Kumham di Balikpapan. Saya minta pada Irjen untuk mengusut dan langsung dinonjobkan,” kata Tjahjo saat ditemui usai Rakornas Simpul Strategis Pembumian Pancasila di Hotel Merlyn Park, Jakarta. Rabu (16/10)” Dalam tangkapan layar yang ditunjukkan Tjahjo kepada awak media, ASN tersebut mengunggah kalimat “Era Kebangkitan Khilafah Telah Tiba”.

    Nampaknya postingan ASN terindikasi radikal dan dibidik oleh UU ITE bagi rezim sehingga harus segera ditindak tegas. Tanpa melalui proses klarifikasi kepada yang bersangkutan, penguasa langsung mengadili di tempat. Semua berdasarkan asas praduga. Ketika berseberangan dengan pemikiran rezim, alat pembungkam massal segera diluncurkan bernama radikal. Parameter apa yang digunakan untuk mengindikasikan seseorang tersebut radikal. Selama ini publik belum paham makna radikal seperti apa. Lantas apa tujuan radikal ini terus digencarkan ?

    ANTI KRITIK, MAKIN REPRESIF

    Bagaikan bola panas yang menggelinding, pelabelan radikal sering difokuskan pada pengajian, ustadz, masjid, kampus dan dakwah. Semua itu membuat umat islam terpojokan dan tertuduh. Penyampaian dakwah untuk memantapkan keimanan di hadapan kaum muslim sendiri apabila menyinggung kata kafir dianggap sebagai intoleransi, bahkan iman kepada hari akhir mencakup fase kehidupan dianggap sebagai pemecah belah bangsa. Sungguh arahan radikal ini membidik kaum muslim dan ajaran islam.

    Sementara itu rezim sudah membuat daftar tokoh radikal mayoritas adalah ustadz maupun ulama. Sebagian adalah mahasiswa berpemikiran kritis yang lantang menyuarakan kebenaran dan membela umat. Jika diperhatikan, nampak siapapun yang mengusik singgasana penguasa baik secara lisan berupa dakwah, kritikan maupun postingan mereka akan menjadi target tokoh radikal berikutnya. Maka tak salah jika periode ini digelari rezim represif yang mana Islamophobia semakin brutal dan ganas terhadap Islam dan ulama atas nama melawan radikalisme. Kaum muslim dicekoki pemahaman untuk tidak terlalu mendalami ajaran agamanya bahkan sampai tataran menolak syariatnya sendiri.

    Inilah yang diinginkan musuh Islam dengan aqidah sekulernya pada sistem Demokrasi. Menjauhkan kehidupan mereka dari ajaran agama. Berbagai cara ditempuh untuk menghadang kebangkitan umat dan persatuan kaum muslim seperti slogan perang melawan radikalisme yang menjadi visi cabinet saat ini.

    Dalam sistem Demokrasi, Celah muhasabah tertutup rapat. Umat yang menuntut keadilan dianggap makar. Artinya siapa yang tidak mendukung kebijakan rezim, dia akan menanggung konsekuensinya. Berbeda dengan mereka yang mendukung rezim akan aman. Di sisi lain, penguasa menjalin ikatan mesra dan berpihak pada kepentingan kapitalis dengan mengorbankan rakyat. Semua kekayaan umat diserahkan secara gratis atas nama investasi untuk balas budi kepada para elit. Rakyat hanya diminta menerima dan memahami hasil kerja mereka. Masalah seperti itu dianggap sepele oleh rezim daripada momok bernama radikal. Dengan stigma negative ini dakwah dibatasi bahkan dibungkam, hingga rakyat tidak tahu mana yang haq dan batil. Selanjutnya kehidupan umat semakin suram, takut bersuara ketika terjadi kedzaliman di depan mereka. Ancaman, persekusi menjadi akibatnya. Maka bagaimana umat keluar dari belenggu rezim represif ini ?

    Urgensi Persatuan Umat

    Tindakan represif terhadap dakwah islam dan kaum muslim merupakan cara yang diambil oleh Barat untuk menghambat kebangkitan kaum muslim. Melalui tangan penguasa apapun berbau Islam dibidik tanpa standar yang jelas hanya berdasar suka ataupun tidak suka. Akibatnya, umat merasakan bagaimana kedzaliman yang terjadi saat ini.

    “Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang – orang kafir tidak menyukainya (QS. At – Taubah : 32)

    Walhasil umat harus keluar dari kedzaliman ini dengan bersatu. Persatuan umat untuk kembali kepada aturan Allah untuk mengatur kehidupan ini. Kesempurnaan aturan dalam kehidupan hanya dimiliki oleh Islam. Semua lini kehidupan diatur dengan syariat Islam mulai dari pendidikan, sosial, ekonomi bahkan politik. Seorang pemimpin menjalankan tanggung jawabnya untuk rakyat berdasarkan kepada ketaatannya kepada Allah. Kholifah selalu terbuka untuk menerima pendapat bahkan kritikan rakyatnya. Celah muhasabah atas kebijakannya terbuka lebar dan mudah. Semua didasarkan pada standar yang jelas yaitu hukum syara’ bukan berasal dari keinginan kholifah.

    Tugas negara adalah menyebarkan dakwah ke seluruh penjuru dunia bukan membatasinya. Sebab dengan dakwah umat tercerahkan dan memiliki keteguhan iman kepada Allah SWT. Menumbuhkan rasa takut kepada Allah dan menjalankan kehidupan ini dengan ketaatan.  Maka keberkahan dan keadilan akan terwujud.

    Jadi, ketika dakwah Islam dibungkam melalui stigma radikal, maka umat harus bersatu untuk membela marwah ulama dan memperjuangkan penegakan syariahnya untuk melawan kedzaliman saat ini.

    Wallahua’lam Bisshowa’ab

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.