Da’i Bukan Profesi, Tapi Perintah Ilahi

147

Oleh Yuyun Rumiwat (Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban)

Ketika mendengar kata “Da’i”, pasti sebagian besar kita terbayang mubaligh, penceramah dan ahli agama di atas podium. Atau bahkan ada yang menganggap Da’i adalah profesi special bagi ahli agama. Benarkah selalu demikian?, lalu bagaimana dengan posisi Abu Bakar di hari pertama masuk Islam yang mengajak sahabat-sahabatnya beriman? Bagaimana posisi Mus’ab bin Umair yang diutus rasulullah mengkontak tokoh-tokoh Yastrib atau Madinah kala itu?

Jarang terbayang bahwa da’i  adalah sosok yang lahir dari konsekuensi dan buah iman. Yang  melahirkan cinta untuk menyampaikan kebenaran (dakwah), sehingga secara otomatis bergelar da’i. Entah diakui masyarakat atau tidak. Tapi perannya terasakan dan tak terelakkan. Walau pendengki kebenaran berusaha menghalangi dan menyingkirlan dari umat.

Pemahaman sempit terkait da’i muncul ketika pemahaman agama umat menurun. Terlebih sistem sekuler turut menjauhkan dari pemahamn islam kafah dari kehidupan. Jarang dipahami bahwa mengkaji ilmu agama dan dakwah adalah kewajiban.

Jika masih  terekam dalam umat hadist berikut;  “menuntut ilmu adalah kewajiban atas tiap kaum muslim”, dan “sampaikanlah walau satu ayat”, kebanyakan dalam batas tahu, bukan sampai membentuk pemahaman utuh bahwa itu kewajiban. Kewajiban yang berkonsekuensi dosa jika ditinggalkan.

Alhamdulillah, semakin hari benih dan progress pemahan umat Lika bangkit. Terbukti semangat umat untuk mengkaji Islam pun meningkat. Majelis-majelis mulai bermunculan dari tiap kalangan pun profesi.  Bahkan motivasi untuk menyampaikan agama pun kian menguat. Terbukti kian banyak muncul da’i-da’i yang tidak sebatas lahir dari sekolah khusus agama. Bahkan untuk kualitas ilmu dan pengamalan agamanya pun luar biasa.

Bahkan, fenomena hijrah dan pengalaman unik dari dari orang-orang yang merasakan nikmat hijrah pun, kian memperbesar jumlah penyampai agama Islam di tengah umat. Menandakan musim semi kemenangan Islam kian dekat.

Karenanya,  sungguh disayangkan jika akhir-akhir ini muncul kebijakan penceramah rekomendasi pemerintah. Bahkan, KH Said Aqil Diraj menyatakan, “seharusnya kemenag merilis penceramah yang dilarang”

(Republika Online, 21/5/2018). Seharusnya mereka menjadi pendukung dan penjaga tumbuh suburnya para da’i. Yang mempermudah pada peningkatan mutu generasi. Yang siap membawa negeri pada peradaban yang diridhai ilahi. Bukan malah membatasi, atau melarang.

Untuk menentukan kualifikasi Da’i  atau  Ulama tentu tidak sesederhana memberi kualifikasi pada profesi guru, dokter dengan cukup melihat kompetensi akademisi. Justru nilai pokok dari ulama adalah mereka hamba Allah yang paling takut pada Allah (Qs. Fathir: 28).

Negara pengemban utama sistem kapitalis (AS) tak kan mendiamkan kebangkitan umat. Lewat jalan umala’ pun ulama yang pro terhadap kebijakan mereka. Akan digunakan segala strategi agar umat pobhia terhadap agamanya sendiri. Dengan pelabelan penceramah radikal dan lain-lain.

Fenomena di atas salah satu ujian. Yang kian mengokohkan konsistensi orang mu’min,  yang  menjadikan dakwah sebagai poros kehidupan. Meletakkan Allah dan rasul-Nya sebagaimana kitabullah menuntun,  (Qs:At-Taubah:24).

Bagi yang faham dakwah bukan profesi. Tak kan goyah ada rekomendasi atau tidak. Tak ada yang bisa membuatnya berhenti. Karena Allah sang majikan sejati. Iman dan Umur modal hakiki. Keuntungan dunia bukan yang dicari. Ridha ilahi balasan yang dinanti.  Cukup kalamullah sebagai rekomendasi tertinggi. Misal. Di Qs. Ali-Imron: 104, Qs. Fushilat: 33 dan masih ayat lainnya.

Karenanya, doa adalah senjata utama bagi seorang dai, agar tetap dikokohkan oleh Allah di jalan-Nya yang diridhai. Dalam kondisi sempat pun sempit. Tetap kokoh sampaikan hak adalah hak yang bathil adalah bathil. Teguh dengan dakwah metode kenabian. Apapun resikonya. Karena transaksinya dengan Allah. Bukan profesi yang berijarah dengan manusia, yang bisa terputus oleh kontrak kerja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.