Bullying, Noktah Hitam Dunia Pendidikan

29

Oleh : Siti Komariah, S. Pd. I (Komunitas Peduli Umat Konda)

Lagi dan lagi, negeri tercintaku saat ini sedang dilanda duka. Duka dari rusaknya moral para generasi negeri ini. Hampir setiap hari masyarakat disuguhkan dengan berita kerusakan moral generasi, baik dari media televisi, maupun media sosial. Salah satu kerusakan moral generasi yaitu kasus perundungan (bullying) di sekolah.

Problem Bullying Kian Meningkat

Tak dapat dipungkiri, kasus perundungan (Bullying) di sekolah kini sangat mengkhawatirkan. Baru-baru ini kasus perundungan menimpa murid SMP di daerah Purworejo. Dimana tiga siswa laki-laki memukul dan menendang seorang siswi yang diduga terjadi di ruang kelas, (tirto.id).

Kemudian kasus perundungan pun juga dialami oleh siswa SMP Negeri 16 Malang, Jawa Timur. Dimana MS (13), seorang siswa kelas VII SMP tersebut harus menjalani perawatan intensif akibat bullying yang dilakukan oleh temen-temannya. Bahkan, pihak rumah sakit terpaksa melakukan amputasi pada jari tengah tangan MS. Pasalnya, akibat aksi perundungan itu menyebabkan jarinya tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya, (kompas.com).

Kasus perundungan ini seakan menjadi noktah hitam dunia pendidikan yang tak kunjung usai. Sebagaimana laporan Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Hak Sipil dan Partisipasi Anak, Jasra Putra mengatakan sepanjang 2011 hingga 2019, KPAI mencatat 37.381 pengaduan mengenai anak. Terkait dengan kasus perundungan, baik di media sosial maupun di dunia pendidikan, laporannya mencapai 2.473 laporan.

Jasra meyakini pengaduan anak kepada KPAI tersebut bagaikan fenomena gunung es. Artinya, masih sedikit yang terlihat di permukaan karena dilaporkan, sementara di bawahnya masih tersimpan kasus-kasus lain yang besar, namun tidak dilaporkan.

“Trennya terus meningkat,” kata Jasra, Ahad (9/2).

Menguak Akar Masalah

Kasus perundungan atau bullying saat ini memang seakan menjadi tren para remaja. Yang mana, mereka seakan berusaha menunjukkan kekuatan mereka melalui perbuatan keji tersebut, tanpa menyadari bahwa perbuatan itu dapat merugikan orang, bahkan hingga dapat menghilangkan nyawa manusia.

Banyak faktor yang menyebabkan anak melakukan bullying pada temannya, diantaranya,

Pertama, hilangnya peranan orang tua dalam mendidik dan mengasuh anak. Dimana peran ini sangatlah penting dalam pembentukan kepribadian seorang anak. Apakah anak tersebut akan menjadi anak yang berkepribadian baik, ataukah sebaliknya. Namun, peran tersebut kini seakan mulai sirna. Hanya sebagian orang tua yang memahami tangungjawabnya sebagai Madrasahtul U’lla (sekolah pertama) bagi anaknya. Contoh kecilnya, seorang ibu yang seharusnya memiliki peran sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Dimana kewajiban utamanya adalah berada pada ranah domestik harus ikut terjun pula ke ranah publik guna membantu perekonomian keluarga. Berangkat pagi, pulang malam. Alhasil, anak kurang perhatian, mencari jati diri diluar, moral berantakan, imbasnya melakukan tawuran dan perundungan.

Kedua, Menjamurnya warung internet (warnet) yang sangat mudah diakses oleh anak. Dimana saat anak-anak tidak mampu membeli gawai, maka mereka memanfaatkan dunia warnet. Disana para remaja pun tanpa pengontrolan sangat mudah mengakses berbagai situs yang juga membahayakan perilaku anak-anak. Seperti, konten kekerasan.

Ditambah lagi, kontrol masyarakat yang mulai hilang. Sikap individualisme membuat masyarakat melupakan kewajibannya sebagai salah satu pemegang kendali dalam pembentukan keperibadian para generasi.

Ketiga, negara juga memiliki peranan penting dalam pembentukan kepribadian para generasi dan mengakhiri kasus bullying ini. Tidak hanya melakukan gebrakan lewat peningkatan nilai akademik di sekolah. Karena peningkatan nilai akademis di sekolah tidak bisa menjadi jaminan anak memiliki kemampuan mengatasi masalah pribadi dan berinteraksi dengan lingkungan. Namun faktanya hingga saat ini problem ini belum juga menuai solusi tuntasnya, walaupun para pelaku bullying telah ditindak lanjuti oleh pihak berwajib. Padahal problem bullying yang menjadi tren para remaja saat ini telah lama terjadi.

Sebagaimana peryataan pemerintah lewat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengaku belum punya terobosan baru guna mencegah kekerasan dan perundungan yang masih terjadi di sekolah.

Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar dan Menengah Haris Iskandar, mengatakan bahwa kasus-kasus perundungan yang terjadi sudah ditangani. Sementara untuk antisipasi, belum dapat come up dengan ide baru. (cnnindonesia.com, 7/2/2020).

Sungguh sangat disayangkan. Pemerintah terkesan lambat dalam mengambil sikap untuk mengakhiri problem bullying yang telah banyak memakan korban, bahkan problem ini telah membuat bertambahnya noktah hitam dalam dunia pendidikan.

Disisi lain, sikap yang ditunjukkan oleh Kemendikbud, sebenarnya mengonfirmasikan pada publik bahwa pemerintah seakan gagal dalam membangun sumber daya manusia (SDM) bangsa lewat sistem pendidikan sekuler yang saat ini diterapkan.

Namun, akar pangkal dari seluruh faktor tersebut adalah sistem kapitalis sekuler (pemisahan agama dari kehidupan) yang diembang oleh negara ini. Yang mana sistem ini meniscayakan hilangnya peran orangtua, masyarakat, bahkan negara dalam membentuk kepribadian generasi dan lambatnya mengakhiri problem bullying.

Pemisahan nilai-nilai agama dari kehidupan pun memberi pengaruh buruk bagi kehidupan masyarakat. Kehidupan yang sekularistik telah menjauhkan setiap individu masyarakat dari rasa kemanusiaan, cenderung hedonis, dan tak takut akan dosa apalagi siksaan di akhirat nanti.

Maka wajar jika kerusakan moral pada remaja juga terus terjadi secara sistemis. Hal ini karena sistem yang ada baik sistem pendidikan, sistem pergaulan, sistem hukum, dan sistem informasi tidak mendukung untuk penjagaan remaja dari kerusakan moral tersebut.

Islam Pencetak Generasi Unggul

Sistem pendidikan yang dijalankan oleh negara sangat penting dalam pembentukan karakter dan kepribadian masyarakat, terkhusus remaja. Sistem pendidikan tersebut haruslah terintegrasi sejak pendidikan di sekolah dasar. Tak hanya mengandalkan pemerolehan prestasi yang gemilang, namun juga harus memperhatikan pembentukan kepribadian dan akhlak terpuji setiap individu peserta didiknya.

Namun tak dapat disangkal jika sistem pendidikan sekuler telah gagal membangun generasi yang unggul, berprestasi, serta berakhlakul karimah. Maka untuk mendambakan lahirnya generasi terbaik dalam sistem sekuler seolah hanya mimpi di siang bolong.

Islam bukan hanya sebagai agama ritual semata, Islam merupakan satu-satunya solusi atas setiap problem kehidupan. Baik, kehidupan berumah tangga, bermasyarakat, maupun tatanan negara. Islam memberikan perhatian besar kepada generasi, bahkan sejak dini. Pada masa kejayaan Islam, keluarga menjadi madrasah pertama bagi putra putrinya. Seorang ibu mendampingi tumbuh kembang putra-putrinya, bahkan membimbing mereka mencari jati diri mereka sesungguhnya. Mereka diperkenalkan nilai-nilai agama sejak dini, diajari membaca al-qur’an dan mengamalkan, serta menghafalkan hadist-hadist Rasulullah.

Peran seorang ibu pun tidak dialihkan dari ranah domestik, walaupun ada sebagian yang terjun ke ranah publik. Namun hal itu mereka lakukan jika peran domestik mereka telah berjalan dengan baik. Para ibu pun terjun ke ranah publik bukan untuk mencari materi guna kebutuhan ekonomi, namun semua itu mereka lakukan juga untuk kemaslahatan umat.

Kemudian Islam pun mendorong masyarakat untuk berperan aktif dalam pembentukan karakter para generasi. Karena tidak dapat dipungkiri bahwa lingkungan yang baik akan menciptakan generasi yang baik pula. Masyarakat berkerjasama dengan keluarga dan negara untuk mengontrol tindak tanduk perbuatan seluruh rakyat, termasud perilaku para generasi.

Tak hanya itu, negara pun berusaha sekuat tenaga untuk membentengi masyarakatnya dari berbagai kemaksiatan. Penjagaan Islam lewat media misalnya pada rakyatnya pun luar biasa. Negara Islam melarang semua konten media yang merusak, baik dalam buku, majalah, surat kabar, media elektronik, dan virtual. Karena pemimpin menyadari bahwa mereka merupakan perisai dan junnah bagi rakyatnya.

Sehingga dengan kerjasama antara keluarga, masyarakat dan negara, maka akan terlahir generasi-genarasi yang cemerlang. Pun anak terhindar dari perilaku yang menyimpang, seperti bullying, narkoba, miras, pergaulan bebas dan lain sebagainya.

Oleh sebab itu, tak heran jika pada masa kejayaan Islam silam banyak terlahir para generasi yang unggul dan berdaya saing tinggi, serta berakhulkarimah. Bahkan diusia yang masih muda mereka mampu memberikan fatwa seperti Iyash bin Muawiyah, Muhammad bin Idris as-Syafii. Dimana mereka sudah bisa memberikan fatwa saat usianya belum genap 15 tahun. Dan masih banyak lagi para remaja yang menyumbangkan tenaga dan pemikiran mereka guna menyongsong masa depan bangsa, serta menjadi garda terdepan untuk melawan musuh-musuh Islam. Wallahu A’lam Bisshawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.