Bukti pemimpin gagal : “Neraca Dagang RI tahun 2018 Tekor Terparah Sejak 1975”

56

Oleh : Adi S. Soeswadi

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca dagang RI mengalami tekor terparah sejak 1975. Angka defisit neraca dagang mencapai US$ 8,57 miliar. Menurut Guru besar ilmu ekonomi sekaligus peneliti senior INDEF Didik J Rachbini, defisit parah itu artinya sektor luar negeri kita lemah, kedodoran, kehilangan strategi ekonomi dan dagang. (detikcom, 22 Februari 2019).

Defisit neraca dagang yang parah di tahun 2018 ternyata tidak dijadikan pelajaran untuk memperbaiki keadaan. Buktinya, neraca perdagangan RI di Januari 2019 masih juga mengalami defisit sebesar US$ 1,16 miliar. Defisit perdagangan antar negara yang lumayan dalam dengan Tiongkok (China) sebesar US$ 2,43 miliar. (detikcom, 15 Pebruari 2019)

Angka defisit neraca dagang yang parah menunjukkan impor dilakukan secara ugal-ugalan. Bahkan impor juga dilakukan pada komoditas garam, gula, beras dan daging. Tidak ada upaya yang sungguh-sungguh untuk memberdayakan potensi dalam negeri. Padahal potensi Indonesia begitu besar dan tidak kalah dibanding dengan negara lain. Kalau potensi dalam negeri dikembangkan tentu akan memberi manfaat yang besar bagi rakyat. Terutama untuk memenuhi ketersediaan barang, mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan.

Wajar saja apabila ada sebagian pihak mensinyalir bahwa kebijakan impor besar-besaran itu dilakukan untuk memburu rente. Kebijakan itu jelas tidak berpihak kepada rakyat, tapi hanya memberi keuntungan yang besar pada segelintir orang. Tentu hal ini sangat beralasan, karena dengan kekuasaan itu seharusnya pemimipin bisa mengatur dan menetapkan kebijakan ekonomi agar potensi dalam negeri menjadi prioritas untuk dikembangkan. Bukannya malah memberi kesempatan negara lain untuk memanfaatkan pasar Indonesia yang besar.

Inilah bukti pemimpin yang gagal. Gagal dalam memenuhi kebutuhan dan membela kepentingan rakyatnya. Gagal dalam menjalankan aktifitas ekonomi negara. Sangat jauh dari yang pernah dijanjikan dulu semasa belum berkuasa. Berjanji impor akan dikurangi, tapi kenyataannya malah ugal-ugalan. Berjanji ekonomi akan meroket, tapi kenyataannya malah mengalami penurunan.

Pemimpin yang seperti ini tentu tidak pantas untuk dipilih kembali. Nilai rapornya jelas merah. Rakyat pun merasakan dampak buruk kebijakannya. Tidak ada upaya pengendalian impor dan melindungi produk dalam negeri. Gempuran barang impor telah menurunkan produksi dalam negeri. Penutupan usaha tak terelakkan dan pengangguran pun meningkat.

Rakyat butuh pemimpin yang amanah dan jujur. Bukan pemimpin yang khianat dan ingkar janji. Rakyat membutuhkan pemimpin yang mau memperhatikan kebutuhan dan kesejahteraan rakyat. Bukan pemimpin menzalimi rakyat dan lebih memperhatikan keuntungan orang-orang yang berada sekitarnya.

Sudah seharusnya semua keburukan ini diakhiri. Rakyat harus segera memilih pemimpin yang bertaqwa yang menjadikan Islam sebagai pegangan hidupnya. Pemimpin yang benar-benar takut kepada Allah, sehingga sungguh -sungguh dalam melayani dan mengurusi rakyatnya. Pemimpin yang benar-benar takut akan pengadilan di hari akhir, sehingga selalu berhati-hati dalam menentukan kebijakan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.