BODY POSITIVITY KAUM LIBERAL, AURAT MAKIN DIOBRAL

108

Ekky Marita, S.Pd (Pendidik)

Perempuan adalah makhluk yang senang akan keindahan. Allah menjadikan indah pada pandangan manusia, salah satunya adalah kaum hawa. Namun tak semua diciptakan sama, melainkan ada kekurangan dan kelebihan terutama pada fisiknya. Dikarenakan kekurangan itu, sebagian perempuan malu, tidak percaya diri, bahkan berlomba memperbaiki fisik untuk menunjang penampilan. Parahnya, kekurangan bentuk tubuh dijadikan bahan olok – olok dengan tujuan bercanda ataupun menghina. Inilah yang disebut sebagai body shaming.

Kasus body shaming yang ditujukan baik perempuan maupun laki – laki menyerang pada fisik seperti berat badan, warna kulit, rambut hingga ukuran kaki. Hal ini sering berujung pada cyber bullying dan membuat mental si korban terganggu.

Berdalih melawan body shaming, publik figur seperti Tara Basro menggaungkan opini dengan membuat gerakan body positivity untuk mencintai tubuh aslinya, memperlihatkan aksi dan berpenampilan “berani” yang menunjukkan suatu kebanggan postur tubuhnya. Namun langkah ini menuai pro dan kontra.

Dikutip dari BBC News (05/03/2020) “Polemik unggahan foto aktris Tara Basro yang mengkampanyekan Body Positivity kembali menyembulkan pertanyaan tentang hak perempuan mengekspresikan hak atas tubuhnya dan batasan akan pornografi. Unggahan foto aktris Tara Basro dalam instagram, memperlihatkan selulit di paha dan lipatan perutnya. Lewat foto tersebut, ia mengkampanyekan Body Positivity, mengajak orang untuk mencintai tubuhnya dan percaya dengan diri sendiri”.

Tindakan Body Positivity ini membuat para wanita berani mengekspose bagian tubuhnya atas kemauan sendiri. Dengan dalih melawan body shaming, mempertontonkan setiap detail tubuh dianggap sebagai hak atas tubuhnya sehingga foto seminudis atau pornografi dapat dianggap sebagai seni.  Mengapa hal ini justru diapresiasi ?

Kebebasan Mengumbar Aurat

Opini Body Positivity yang digaungkan oleh publik figur menambah deretan panjang pihak yang gemar menyuarakan kebebasan hak perempuan atas tubuhnya. Apalagi seorang artis adalah pekerja seni sehingga apapun yang dilakukannya mulai dari wajah dan tubuhnya menjadi konsumsi publik atas nama estetika. Sungguh miris apabila publik menelan informasi tersebut dan terpengaruh untuk mengikuti langkah sang artis dengan memperlihatkan bagian tubuh mereka yang dianggap sebagai kekurangan. Baik melalui unggahan di akun media sosial maupun dunia nyata, mereka tak perlu merasa malu bahkan bangga. Postingan tidak senonoh, berbau pornoaksi dan mengobral aurat dianggap sah saja bagi mereka.

Ide ini dimunculkan menjelang hari Perempuan Internasional (Woman’s Day) 08/03/2020. Dengan memperhatikan hal tersebut, opini yang diusung tetap bermuatan liberal, tanpa batas. Tak ada aturan yang mampu membatasi kebebasan perempuan mengekspresikan tubuhnya di ranah publik karena mereka mempunyai hak penuh atas tubuhnya. Foto – foto semi bugil akan diizinkan dengan alasan hak asasi kaum hawa. Maka pornoaksi semakin legal, unsur – unsur yang mengundang syahwat semakin menggelegar. Di tengah negeri yang mayoritas muslim, sungguh merupakan bencana apabila aurat perempuan makin diobral dengan dalih bebas berekspresi  meskipun si pemilik tubuh tak ada rasa penyesalan sekalipun.

Pola pikir kaum liberalis yang berteriak – teriak kebebasan sungguh meniadakan batasan aturan yang diberikan oleh Pencipta. Di dukung oleh sistem Kapitalis yang berasaskan manfaat, semua sah di mata masyarakat tanpa memperhatikan akibatnya. Apakah kebebasan menampakkan aurat membuat perempuan mulia atau justru hina ? Ketika aurat menjadi konsumsi publik, perempuan secara sadar telah menjual harga dirinya secara rendah dan murah. Lalu bagaimana memuliakan kehormatan perempuan ?

Islam Memuliakan Perempuan

Islam menempatkan laki – laki dan perempuan sesuai dengan kadar kemampuannya masing – masing. Dari awal Islam hadir mengangkat derajat perempuan mulai dari perlindungan dirinya hingga kebutuhannya. Maka kehormatan perempuan terletak pada ketaatan kepada seluruh syariat Allah. Salah satu perlindungan bagi perempuan adalah ketika perempuan mencapai usia baligh, tubuhnya terjaga oleh jilbab dan khimar. (Q.S. Al- Ahsab : 59)

Dikuatkan melalui lisan Rasulullah, “Sesungguhnya seorang anak perempuan jika telah haid (balig), tidak boleh terlihat dari dirinya kecuali wajah dan kedua tangannya hingga pergelangan tangan”. (HR. Abu Dawud)

Dari segi fisiknya terjaga bukan untuk konsumsi umum. Batasan aurat ditampakkan bagi mahramnya saja. Maka mengumbar aurat atas nama ekspresi diri hanya akan menimbulkan kerusakan. Sebab perempuan dimulikan dengan keseriusan bagi laki – laki yang mampu untuk menikahinya. Sehingga peran perempuan sebagai seorang istri yang mengatur rumah tangga suaminya (ummu warobbatul bait) dan sebagai ibu yang mencetak generasi beriman dan bertaqwa (ummu madrosatul ula) terwujud.

Jadi tindakan mengobral aurat dalam ide Body Positivity melawan Body Shaming hanya akan menyebabkan maraknya tindakan pornoaksi sehingga merendahkan harga diri perempuan. Hal ini harus ditolak dengan tegas karena hanya aturan Islam yang jelas menempatkan perempuan dalam posisi mulia.

Wallahua’lam Bisshowa’ab

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.