Beras Sachet : Ironi Negara Kaya

130
Budi Waseso memperlihatkan beras sachet di DPR (Foto: Resya Firmansyah/kumparan)

Oleh: Ariani (Staf Pengajar Insantama, Malang)

Beras merupakan kebutuhan pangan yang dibutuhkan seluruh keluarga di Indonesia. Karena nya demi kebutuhan tersebut, tidak heran banyak warga berpeluh keringat berupaya untuk memenuhinya.  Tidak terkecuali juga keluarga yang berpenghasilan rendah.  Bahkan di bulan Ramadhan ini, hal yang paling dikhawatirkan yaitu naiknya harga-harga kebutuhan pokok. Sehingga banyak kepala keluarga semakin menggenjot kerjanya, sampai lembur. Hanya untuk  meraih daya beli yang tinggi.

Persaingan untuk mendapatkan bahan pokok pun semakin ketat, mengingat sumber pencaharian  atau upah semakin sedikit dan masih banyaknya yang menganggur.  Hingga tak heran sampai ‘memakan’ korban ketika ada pembagian sembako. Masih hangat di ingatan kita, seorang anak kecill meninggal setelah lama mengantri untuk mendapatkan paket sembako murah.

Upaya yang dilakukan Pemerintah juga beragam dalam mengatasi tingginya permintaan bahan pokok, mulai dari sidak pasar agar harga tidak melonjak hingga sebar sembako murah. Dikutip dari detikfinance (17/05/2018), Kementrian Perdagangan (Kemendag) dan Bulog melakukan operasi pasar menjelang Ramadhan, sebagai upaya untuk menahan lonjakan harga pangan yang secara musiman terjadi. Meski sudah beragam yang dilakukan agar bisa memenuhi kebutuhan  pokok masyarakat, tetap saja masih banyak yang kesulitan untuk memenuhinya. Sehingga menggugah hati dari banyak kalangan dermawan untuk membantu meringankan beban mereka.

Sebenarnya, jika kita melihat wilayah Indonesia yang amat subur tanahnya. Tentu sangat mudah, jika tanah yang subur itu diberdayakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Hingga tidak lagi berita yang mengabarkan adanya kesulitan memenuhi pangan. Hanya saja, itu semua belum terwujud.  Pilihan Pemerintah untuk mengadakan beras sachet seperti yang dikutip dalam laman  TribunJakarta.com (25/5/2018), “Isinya kurang lebih 200 gram atau cukup untuk empat sampai lima piring. Harganya nanti antara Rp 2.500. Sehingga kalau dia punya Rp 10 ribu, sisanya bisa buat beli komoditi lainnya. Nanti ini akan ada di warung-warung, di toko-toko, di kampung-kampung,” jelas Karyawan Guanarso. Merupakan solusi bagi masyarakat yang berpenghasilan kecil atau pas-pasan.

Hanya saja, yang masih menjadi pertanyaan adalah apakah beras sachet itu sudah terjamin kwalitasnya atau belum?  Karena Bulog pernah memberikan beras untuk masyarakat yang sudah tidak layak konsumsi. Dan alasannya agar negara tidak rugi. Dikutip dari CNBC Indonesia (23/5/2018), “Bagaimana mungkin beras yang sudah rusak itu diperbaiki? Sehingga, Bulog harus memaksa beras yang sudah tidak boleh lagi dikonsumsi,” kata Budi Waseso di gedung parlemen.

Seharusnya, Pemerintah tidak hanya sekedar mengadakan beras sachet. Tetapi melihat dulu sebabnya kenapa masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan pokoknya. Jika itu karena penghasilan yang rendah, maka yang dibantu adalah bagaimana masyarakat bisa meningkatkan kemampuannya untuk memenuhi kebutuhannya. Bukan  justru membuat masyarakat harus ‘berpuasa’ untuk mendapatkan kebutuhan yang layak, sehingga harus mengkonsumsi beras yang belum tentu baik kwalitasnya.

Perlu perbaikan pemikiran tentang untung rugi  dalam mengurusi kebutuhan rakyat. Jika tidak , maka mengurus rakyat bukan lagi dianggap sebagai amanah.  Rakyat berubah menjadi pembeli. Sedangkan Pemerintah berperan sebagai pedagang yang hanya mengurusi untung rugi, bukan lagi memikirkan kepentingan rakyat.  Kecenderungan kebijakan Pemerintah ini, tidak terlepas dari kebijakan Neoliberal. Lebih mementingkan para pemodal dibandingkan rakyat sendiri. Lebih seneng impor daripada memikirkan bagaimana membeli hasil panen petani lokal.

Maka seharusnyalah, sudah sejak lama Pemerintah memperbaiki segala kebijakannya. Bukan hanya mempertimbangkan keuntungan pribadi. Tetapi juga mempertimbangkan untuk kemaslahatan umat.  Seperti yang dicontohkan Khalifah Umar, bagaimana beliau rela tidak tidur hanya untuk memikirkan dan memenuhi kebutuhan rakyatnya.  Semua itu karena beliau paham, bahwa seorang pemimpin negara itu adalah pelayan bagi rakyatnya. Bukan malah sebaliknya, rakyat yang harus banyak mengalah dengan kondisi ekonomi seperti demikian.

Ibnu Umar meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda : “ Kamu semua adalah pemimpin dan kamu semua akan bertanggung jawab terhadap apa yang kamu pimpin.  Seorang Imam (kepala negara) adalah pemimpin manusia dan dia akan bertanggung jawab terhadap rakyatnya . (HR. Bukhari dan Muslim).

Jika  Islam dijadikan pedoman, negara wajib menjamin kebutuhan pokok rakyat person to person. Semua niscaya karena Islam memiliki sistem ekonomi dan APBN kuat dan mampu mengoptimalkan peran SDM dan SDA untuk kesejahteraan rakyat. Wallahua’lam []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.