Bencana dibalik Pariwisata Berbau Kesyirikan

Oleh: Sitti Komariah, S. Pd. I (Muslimah Media Konda)

Andrian (35), saksi mata yang selamat, mengatakan ada seribuan warga sedang berada di pinggir pantai anjungan Nusantara, Kota Palu, Jumat(28/9) sore saat tsunami menerjang wilayah tersebut. Masyarakat setempat saat itu sedang menantikan acara pembukaan festival “Pesona Palu Nomoni” yang digelar di pantai tersebut, rebuplika.co.id, Bau-Bau, (29/9/2018).

Di mana festival “Pesona Palu Nomoni” yang akan dilaksanakan pada hari Jumat tersebut akan menampilkan berbagai macam adat budaya masyarakat kota Palu Sulawesi Tengah. Kurang lebih ada 10 adat istiadat yang akan menghiasi perhelakan festival pesona palu nomoni.

Festival pesona palu nomoni tersebut diharapkan mampu mengangkat kembali kekayaan adat budaya masyarakat di lembah dan sepanjang teluk Palu agar budaya tersebut tidak punah dan sekedar menjadi hiasan di buku buku sejarah. Salah satu adat budaya yang ingin ditampilkan di pesona palu nomoni yaitu ritual non medis Balia Jinja.

Balia Jinja merupakan ritual atau upacara adat khas suku Kaili. Upacara adat Balia Jinja adalah sebuah ritual pengobatan bersifat non medis yang sudah dikenal masyarakat suku Kaili sejak ratusan tahun lalu. Sebelum adanya rumah sakit, upacara ini diandalkan masyarakat untuk mendapatkan petunjuk dari nenek moyang terkait bagaimana melunturkan penyakit-penyakit yang menyerang tubuh.

Manopo, salah satu anggota tim upacara ritual Balia Jinja mengungkapkan tradisi ini masih dipegang oleh masyarakat suku Kaili hingga sekarang.

Dalam pelaksanaannya ritual Balia Jinja dipimpin oleh seorang dukun atau tetua yang disebut Tina Nu Balia. Prosesnya diawali dengan Nolana Vangi (pengolesan minyak wangi) ke bagian tubuh orang sakit. Lalu, pelaku ritual menyiapkan air satu mangkok seekor ayam dan seekor kambing sambil nogane (membaca doa). Peniupan lalove (suling) dan gimba (gendang) dimulai untuk mengundang roh leluhur terlibat dalam ritual. Para penari bergerak mengelilingi Palaka (tempat sesaji), metrotvnews,com, Palu, (27/9/2018).

Selanjutnya prosesi ritual Moraru. Sambil menari, penari yang mayoritas wanita berusia 50 tahun ke atas, menombak kambing dan seekor ayam yang sebelumnya telah disiapkan. Tujuannya untuk mengambil darah yang nantinya akan di oleskan di tubuh orang yang sakit.

Tahap terakhir, pelepasan sesaji dan ayam ke sungai atau laut, sekaligus memandikan orang yang sakit. Proses ini memiliki makna jika dimandikan di sungai atau laut maka penyakit akan hilang mengikuti aliran sungai yang bermuara ke samudra luas dan tidak akan kembali lagi.

Inilah salah satu adat istiadat atau budaya suku Kaili, Sulawesi Tengah yang akan ditampilkan di festival pesona palu nomoni pada Jumat (29/9) lalu sebelum pantai talise tersebut di guncang gempa dan disapu oleh tsunami.

Bila kita melihat secara mendalam dari ritual Balia Jinja yang akan ditampilkan di festival pesona palu nomoni itu jelas mengandung unsur kesyirikan. Dimana ritual tersebut meminta kesembuhan kepada selain Allah, padahal yang mampu memberikan kesembuhan hanyalah Allah semata. Sehingga tidak heran jika Allah menurunkan tegurannya yang berupa musibah atau bencana, seperti gempa, tsunami, tanah longsor, gunung meletus, dan lain sebagainya.

Apabila kita memperhatikan lebih dalam lagi musibah yang terjadi akhir-akhir ini bukankah fenomena alam atau pergeseran lengpeng di bawah laut semata, melainkan ada unsur lain di dalamnya yaitu teguran atau murka Allah atas dosa besar yang kita lakukan kepadanya, salah satunya menduakan atau menyekutukan Allah.

Begitupun dengan adanya sebuah pariwisata  yang  dihidupkan dengan budaya lokal daerah yang mengandung ajaran animisme-dinamisme (kesyirikan) dengan alasan untuk menarik perhatian wisatawan dan nantinya dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah untuk daerah/negeri tersebut, padahal sejatinya apabila itu dilakukan maka daerah/negeri tersebut meridhoi akan datangnya murka Allah.

Itulah salah satu pemikiran sosialis-kapitalis yang menjadikan pariwisata sebagai lahan untuk mencetak dollar, baik itu karena keindahan alamiahnya maupun polesan tangan manusia. Ditambah dengan memasukan budaya-budaya setempat yang bertolak belakang dengan nilai-nilai fundamental ajaran Islam. Melakukan perbuatan apapun kepada selain Allah SWT, baik dalam kondisi terdesak ataupun kondisi lapang tetap tidak boleh, dengan kata lain perbuatan tersebut termaksud perbuatan menyekutukan Allah.

Hal ini jelas berbeda dengan pemikiran Islam. Islam tidak akan memberikan celah sedikitpun untuk pintu kemaksiatan, termaksud dalam sektor pariwisata. Islam tidak menjadikan pariwisata sebagai sumber devisa atau mencetak dollah melainkan menjadikan pariwisata sebagai sarana untuk menanamkan pemahaman Islam kepada wisatawan yang mengunjungi tempat-tempat pariwisata. Objek pariwisata tersebut bukan hanya keindahan alam yang bersifat natural dan anugerah Allah SWT, seperti pantai, pegunungan, air terjung, dan lain sebagainya, melainkan juga berupa peninggalan bersejarah dari peradaban Islam.

Dengan melihat dan menikmati keindahan alam secara alami, maka para wisatawan muslim akan semakin mengokohkan keyakinan mereka kepada Allah, Islam dan peradabannya. Begitu pula bagi para wisatawan non muslim pun, baik kafir mu’ahad  maupun kafir musta’man, objek wisata tersebut bisa digunakan sebagai sarana untuk menunjukkan  kepada mereka keangungan dan kebesaran Allah.

Karena itu objek wisata bisa menjadi sarana dakwah dan di’ayah (propaganda). Karena sejatinya sifat manusia akan tunduk dan tabjuk  ketika menyaksikan sendiri keindahan alam yang telah diciptakan oleh Allah dan kebesaran peradaban Islam di masa Kekhilafahan. Sehingga objek wisata tersebut berpotensi sangat besar untuk menyadarkan umat manusia baik muslim maupun non muslim akan kebesaran dan keagungan Allah SWT.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.