Benarkah Khilafah Melenyapkan Pluralitas?

    37

    Oleh: Arin RM, S.Si

    (Freelance Author,  Pegiat TSC)

    Sekalipun jumlah orang Yunani lebih banyak dari jumlah orang Turki di berbagai provinsi Khilafah yang ada di bagian Eropa, toleransi keagamaan diberikan kepada mereka; perlindungan jiwa dan harta yang mereka dapatkan membuat mereka mengajui kepemimpinan Sultan atas seluruh umat Kristen.” (TW Arnold, The Preaching of Islam).

    Sudah tiba masanya, perbincangan seputar khilafah menyebar di berbagai elemen. Tak lagi sebatas di kalangan aktivis gerakan, topik khilafah kini tengah meluas dan menjalar hingga layar kaca. Bahkan media sosial pun ramai bermunculan topik terkait. Memang tidak semuanya bernada positif, namun keberadaan terma khilafah dalam koneksi perbincangan massal menjadikan kata khilafah tak lagi asing di tengah masyarakat.

    Ada yang berkeinginan mencari tahu lebih lanjut karena dorongan mencari kebenaran, ada pula yang mencukupkan diri dan tak ambil peduli, ada pula yang justru membenci. Semuanya dapat dimaklumi sebab selama ini memang masyarakat jarang disuguhkan pemberitaan seimbang terkait khilafah. Bahkan yang santer terjadi justru propaganda untuk menolak Khilafah lantaran dituduh berpotensi melenyapkan pluralitas dan mengancam negara.

    Namun, seiring terbukanya wawasan umat, tak semuanya sepakat dengan propaganda buruk khiafah. Banyak ulama dari berbagai gerakan menyatakan hal sebaliknya. Video pernyataan merekapun telah tersebar luas. Memang, bagi mereka yang berpikir objektif akan mengakui bahwa khilafah adalah ajaran Islam. Jika ada yang membenci dan menolak, bisa jadi karena belum sepenuhnya memahami bagian ajaran Islam tersebut. Dan pada saat yang sama mereka secara searah terus menerima narasi negatif dari pembenci Islam atau penghadang kembalinya khilafah. Sehingga informasi keliru itu menjadi komponen berpikirnya terkait khilafah.

    Padahal, dalam konteks keindonesiaan, ide khilafah adalah jalan untuk membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik. Sebab sejatinya keberadaan khilafah akan menggantikan sekulerisme yang terbukti memperpuruk generasi negeri. Khilafah juga bermaksud mengeluarkan negeri tercinta ini dari cengkeraman neoliberalisme dan neoimperialisme asing. Gaya baru penjajahan kapitalisme global yang hanya bisa ditandingi dengan kekuatan sepadan.

    Pun khilafah juga bukan pelenyap pluralitas. Sejarah kegemilangannya di Spanyol menunjukkan bahwa di kala itu Spanyol disebut negeri tiga agama: Islam, Kristen, dan Yahudi. Ketiganya beriring sejalan damai dalam naungan aturan dari Allah yang dijalankan pemerintahan Islam. Begitu juga anggapan bahwa nonmuslim akan menjadi warga kelas dua adalah hanya tuduhan semata. Sebab sebagaimana yang Nabi tunjukkan dan kemudian dicontoh oleh khalifah pengganti beliau, muslim dan nonmuslim diperlakukan secara sama sebagai warga negara.

    Secara spesifik justru apa yang wajib bagi muslim (seperti membayar zakat) tidak diwajibkan bagi nonmuslim. Dalam kehidupan publik nonmuslim juga mendapatkan hak yang sama. Berhak mendapatkan perlindungan keamanan, pendidikan gratis, layanan kesehatan terbaik, dan akses fasilitas publik lainnya dengan setara. Mereka pun tidak boleh dicederai jiwa dan kehormatannya. Imam Ali RA pernah menuturkan “Dammuhum ka damina (darah mereka seperti darah kita juga) maaluhum ka maalina (harta mereka seperti harta kita juga).

    Khilafah juga tidak memaksa penduduknya yang nonmuslim agar meninggalkan agama. Buktinya adalah masih adanya komunitas Yahudi dan Kristen yang turun-temurun berdomisili di Timur Tengah ataupun bekas kota kekhilafahan lainnya. Tempat ibadah mereka juga tidak diberangus meski khilafah pernah ada selama 13 abad. Tentu sangat berbeda dengan habisnya muslim dari Andalusia.

    Semuanya membuktikan jika keagungan Islam dan kebaikan aturannya bukanlah mesin tak berkemanusiaan seperti kapitalisme. Khilafah bukan ancaman bagi pluralitas, apalagi ancaman bagi eksistensi negeri ini. Tidak ada aturan yang bersumber dari Allah bersifat merugikan manusia jika diamalkan dengan benar. Sehingga tuduhan tak berdasar pada ajaran Islam ini haruslah disudahi. Sudah saatnya umat memahami ajaran Islam dengan benar, untuk kemudian bangga berjuang mengupayakan keberadaannya kembali. [Arin RM]

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.