Benang Kusut Pendidikan : Masih Ada Harapan?

Oleh :  Mila Hanifa, SPd (Pegiat Komunitas Muslimah Lit-Taghyir)

Bisa dibayangkan, apa yang dirasakan Faisal Pole (38), seorang penjaga sekolah di SMPN 2 Galesong yang mendapat perlakuan kasar  oleh 4 siswa sekolahnya?  Hanya gegara ditegur oleh Faisal karena berkata-kata yang kurang sopan.  Mirisnya, orangtua salah satu siswa justru mulai memukul “bujang” sekolah ini pakai gagang  sapu yang terbuat dari  besi hingga berdarah.  (Kabarmakassar.com, 11/2).  Dia akhirnya harus mendapat 8 jahitan di kepala.

Kasus ini menambah deret permasalahan di dunia pendidikan kita, setelah baru-baru saja sempat viral sebuah rekaman video ketika seorang siswa menantang guru IPS di kelas IX  SMP PGRI Wringinanom, Gresik. (10/2).  Why? Mengapa siswa seperti tak punya adab kepada orang yang lebih tua atau yang harusnya dihormati ?  Apalagi jika itu adalah sang guru, yang memberi ilmu.  Prihatin.

Mengapa bisa terjadi?

Pendidikan di Indonesia sebenarnya bertujuan membentuk peserta didik yang beriman , bertakwa dan berakhlak mulia. Namun kalimat ini manis didengar,  susah untuk dicapai.  Karena rincian sistem dan prakteknya justru jauh dari nilai-nilai keimanan dan ketakwaan. Apalagi soal akhlak mulia, seperti sopan santun dan hormat kepada yang harus dihormati, seperti guru yang telah memberinya ilmu, hanya diajarkan sebatas teori.  Bagaimana mungkin bisa membentuk manusia berkarakter dan berakhlak mulia??

Sudah menjadi rahasia umum, nilai agama (Islam) telah tersingkir dari sistem kehidupan di negri ini, termasuk mengatur masalah sistem pendidikan nasional.  Kapitalisme sekuler  telah merasuk dan menjadikan asas manfaat sebagai tumpuan, sehingga pendidikan lebih menitik beratkan pada materi ajar yang bisa memberikan manfaat material semata untuk keperluan dunia usaha.

Pendidikan akhirnya lebih fokus kepada penguasaan sains teknologi dan keterampilan. Prestasi dan keberhasilan pendidikan diukur dari nilai-nilai akademis, tanpa memperhatikan bagaimana akhlak, karakter, kepribadian (prilaku) anak didik. Itulah yang terlihat jelas ketika merebak kasus-kasus kriminal seperti pembunuhan, pemerkosaan, tawuran bahkan kasus gaul bebas yang  telah biasa terjadi di kalangan pelajar.

Akifitas mengajarkan ilmu pun menjadi bagian dari perputaran duit di sistem  kapitalis.  Guru dipandang hanya menjadi profesi untuk mencari uang.  Sekolah menjadi lahan bisnis. Sangat sulit- kalau tidak boleh mengatakan mustahil- menemukan guru idealis yang berdedikasi untuk membentuk keimanan ketakwaan dan kepribadian siswanya.  Hubungan antara guru dan siswa seolah hanya akad jasa dan upah mengupah. Sehingga wajar ketika pilihan sanksi atau teguran yang dilakukan guru ketika tidak  berkenan di hati siswa,  akan   menjadi sumber pertikaian di antara keduanya,  termasuk dengan melibatkan orangtua.  Rasa hormat dan memuliakan  ilmu juga memuliakan orang yang memberi ilmu (pendidik) saat ini sudah bukan style generasi  kekinian.

Pada kasus-kasus pertikaian siswa dan guru, cara pandang bahwa yang berusia di bawah 18 tahun adalah masih anak-anak,  telah menjadi alasan bagi siswa berkelit dari sanksi yang diberikan lembaga peradilan.  Pada kasus tewasnya guru di Sampang  (Februari 2018), pelaku mendapat perlakuan khusus selama persidangan.  Termasuk pemberian sanksi pengadilan yang kurang memenuhi rasa keadilan bagi para ahli waris korban. Bahkan ada sikap tegas guru untuk menegur prilaku buruk siswa (misal : tidak sholat jamaah) dijadikan dalih untuk mengkriminalisasi para guru.

Sekali lagi kita prihatin dengan segala carut marut pendidikan saat ini. Apa masih bisa kita perbaiki??

Islam, Harapan Masa Depan

Islam sebagai sebuah sistem kehidupan, menjadikan aqidah (iman) sebagai asas semua sub sistem pengaturan masyarakat.  Termasuk mengatur sistem pendidikan generasi. Dienul Islam berusaha mempengaruhi arah pendidikan untuk melahirkan generasi yang berkepribadian kuat, yaitu kepribadian Islam.

Pendidikan model ini menjadikan aqidah Islam sebagai tolok ukur pola pikir dan kecendrungan jiwanya, sehingga orang yang terdidik akan menyesuaikan life style-nya dengan Islam.  Karena konsepnya sederhana , ilmu untuk amal. Atau dengan kata lain apa yang dipelajari dalam kurikulum pendidikan mempengaruhi peserta didik secara praktis.

Konsep ilmu untuk diamalkan secara praktis karena ada dua hal yang dipakai pendidik dalam mempengaruhi kepribadian para siswanya, yaitu :  rekonstruksi dan konstruksi.  Rekontruksi adalah membongkar persepsi pemikiran yang salah secara menyeluruh (revolusioner) sampai ke akarnya, kemudian dibangun kembali konstruksi pemikiran yang benar, kokoh dan kuat. Sehingga mampu berpengaruh dalam amalnya.   Sedangkan  konstruksi  bermakna menyusun suatu persepsi pemikiran yang kokoh dengan mengoptimalkan unsur-unsur kekuatan berfikir yang akan mendorong dia untuk beramal dengan benar.

Secara garis besar ada  tiga tujuan utama pendidikan dalam Dien yang mulia ini :  pertama, membangun kepribadian Islam. Anak didik dibangun aqidah Islamnya sebelum mempelajari ilmu-ilmu lainnya. Sehingga kokoh lah karakter terpuji pada dirinya.  Cerdas intelektual karena dibangun pemikirannya. Juga berakhlak mulia karena dibimbing dan dibiasakan berprilaku terpuji.

Kedua, mengajarkan keterampilan dan pengetahuan praktis (skill) untuk kehidupan.  Para murid diajarkan keterampilan dan pengetahuan yang mereka butuhkan untuk berinteraksi dengan lingkungan mereka. Seperti matematika, sains umum, serta pengetahuan dan keterampilan untuk menggunakan berbagai alat dan penemuan.

Ketiga, mempersiapkan  siswa untuk memasuki pendidikan tinggi atau universitas.  Di sinilah diajarkan ilmu-ilmu utama yang menjadi prasyarat, apakah ilmu budaya atau tsaqafah seperti Fiqh, Bahasa Arab, atau Tafsir Alquran, ataupun ilmu empiris seperti matematika, kimia, biologi, atau fisika.

Sehingga tercetaklah generasi-generasi cemerlang penerus peradaban yang mengaplikasikan ilmunya tak lain untuk kemaslahatan umat. Sejarah emas di masa kegemilangan Islam mencatat, pendidikan Islam menghasilkan para ahli di segala bidang. Bahkan melahirkan generasi terbaik yang tidak hanya ahli di bidang sains dan teknologi, tapi juga memiliki kepribadian Islam dan mampu menghantarkan  kaum muslimin memiliki  peradaban nomor satu di  dunia.

Memang Allah telah memuliakan orang yang beriman dan berilmu pengetahuan. “ Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. “  (TQS. Al Mujadalah : 11)

Sejarah pun mencatat nama-nama yang tak diragukan keilmuan dan penghargaan dunia atas jasanya .  Nama seperti  Ibnu Sina (Avicenna) yang menjadi “Bapak Kedokteran Modern” . Atau Al Khawarizmi yang menjadi  ahli tidak hanya dalam ilmu syariat , tapi juga bidang falsafah, logika, aritmatika dll.  Mereka adalah output sistem pendidikan yang memuliakan manusia bukan sekedar “makan bangku sekolah”.  Tapi menjadikannya berilmu, beriman dan menjadi manusia yang berguna untuk umat.

Begitulah sistem pendidikan yang membentuk secara utuh kepribadian manusia. Sehingga tidak terjadi out put pendidikan yang punya kepribadian pecah (split personality) . Di satu sisi cerdas intelektualnya, namun parah atau buruk prilakunya.

Di dalam sistem pendidikan Islam, orangtua terutama ibu berkontribusi besar dalam membentuk kepribadian anak . Ayah berkewajiban mendidik istri dan anak-anaknya agar menjadi pribadi yang taat kepada hukum-hukum Allah (QS. At-Tahrim :6). Sedangkan posisi ibu adalah sebagai  madrasah (sekolah) pertama dalam kehidupan anak. Ini semua merupakan kewajiban yang dibebankan Allah kepada orangtua.  Sehingga kedua orangtua akan berperan secara sinergis dengan penyelenggara praktis pendidikan untuk mencapai tujuan mulia mencetak generasi berkualitas. Bukan saling menegasikan peran, apalagi saling menjatuhkan.

Tentu takkan terjadi, orangtua yang justru memotivasi dan mefasilitasi anak untuk bertindak kasar seperti preman, bahkan menyebabkan orang lain sampai terluka atau lebih parah lagi  sampai kehilangan nyawa. Sungguh anak di usia 15 tahun sudah tergolong baligh sehingga sudah seharusnya tidak seenaknya beramal dan bersikap.  Bahkan sudah seharusnya seluruh taklif (beban hukum) Islam dilaksanakan secara sempurna.

Allah berfirman terkait kewajiban sholat :   “Suruhlah anak-anakmu mengerjakan sholat pada usia 7 tahun dan pukullah pada usia 10 tahun, bila mereka tidak sholat . Dan pisahkan tempat tidurnya (laki-laki dan perempuan)” (HR. Al Hakim dan Abu Dawud).

Dalam tahapan usia di mana anak didik harus diajarkan kewajiban-kewajiban syariat (di bawah usia baligh ) maka ada latihan-latihan yang terus dilakukan agar tertanam kuat kepada kepribadiannya. Tidak hanya sholat, tapi semua kewajiban, termasuk adab dan akhlak mulia.  Sehingga keluhuran, kejujuran dan kelurusan prilakunya bisa terbentuk dengan sempurna. Fase ini harus dilewati dengan pemberian nasehat, teguran, peringatan, bahkan pukulan  (yang tidak membahayakan) jika dia membangkang  (Tahapan Pendidikan Islam , Jurnal Al Ihsas, 1996).

Sedangkan pada kasus kriminalitas yang  pelakunya siswa yang sudah berusia atau di atas 15 tahun. Atau belum usia itu , namun sudah haid atau ihtilam  (mimpi basah) maka sudah seharusnya pelanggaran ini mendapat sanksi hukum di pengadilan selayaknya seorang dewasa.

Dalam sistem sanksi (uqubat) Islam penganiayaan terkena qishosh (jinayat).  Apalagi jika sampai menyebabkan korban kehilangan nyawa, maka pelaku harus dibalas bunuh. Tapi seandainya keluarga korban memaafkan, maka wajib membayar diyat (tebusan) yang sesuai ketentuan syariat. (Sistem Sanksi Dalam Islam , Abdurahman Al Maliki, 1981).

Memang sangat tidak mungkin sub sistem pendidikan berdiri sendiri tanpa dukungan sub sistem kehidupan yang lain. Termasuk di dalamnya sistem sanksi , ekonomi dan sosial yang sesuai syariah Islam.  Itulah alasan kuat  mengapa penting menerapkan Islam secara  Kaffah, sistem Islam. Dan meninggalkan UU dan sistem pendidikan sekuler yang menjauhkan siswa dari ketakwaan dan keluhuran budi.  Maka pendidikan ke depan masih punya harapan untuk lebih baik , insha Allah[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.