Ayo Syariahkan Indonesia!

102

Oleh: Dina Dwi Nurcahyani (Komunitas Dakwah Muslimah Malang)

Beberapa waktu lalu sempat ramai opini tentang “Jangan Suriahkan Indonesia”. Isu ini kemudian menjadi pro-kontra di masyarakat, utamanya di media sosial. Tak lama berselang mencuat pernyataan Ketum PSI, Grace Natalie yang menolak adanya perda-perda religi semacam perda syariah dan perda injil. Dia beralasan karena perda-perda ini bisa menimbulkan ketidakadilan, diskriminasi dan intoleransi di tengah masyarakat. Pernyataan ini pun kontan menimbulkan reaksi bagi kalangan umat Islam yang masih peduli dengan agamanya. Mereka tidak terima Islam dituduh seperti itu. Pernyataan ini dianggap sudah menghina dan melecehkan Islam, bahkan lebih parah dibandingkan dengan kasus Ahok dua tahun lalu. Dan yang terbaru adalah partainya menolak poligami. Padahal poligami dibolehkan dalam syariat Islam. Partai ini tidak akan pernah mentolerir apalagi mendukung praktik poligami. Ketumnya sendiri dengan tegas melarang seluruh kader, pengurus dan anggota legislatif yang berasal dari PSI untuk praktik poligami. Pernyataan ini pun diamini oleh Komnas Perempuan. Penolakan mereka pada poligami dengan beralasan sangat merugikan kaum perempuan dan anak-anak. Menuduh poligami menjadi salah satu penyebab timbulnya kekerasan baik fisik, psikis, dan psikologis. Juga menuduh poligami sebagai penyebab hancurnya keluarga. Meski aroma kebencian terhadap syariah sangat jelas tercium.

Penyebaran opini negatif dan penolakan terhadap hukum syariah semacam ini adalah upaya untuk menstigma buruk ajaran Islam. Menyerang syariat Islam dengan berbagai opini negatif yang dibuat sedemikian rupa. Menjelekkan Islam melalui peristiwa atau persepsi negatif untuk coba dikaitkan dengan syariat Islam. Menuduh syariah Islam dengan berbagai keburukan. Yang sebenarnya hal itu tidak bersesuaian dengan Islam sama sekali.

Termasuk juga membajak kondisi di Suriah untuk kemudian diopinikan bahwa yang terjadi di negeri itu adalah akibat adanya ambisi kelompok radikal yang melakukan perjuangan penegakkan syariah dan khilafah. Menyalahkan Islam sebagai biang kerok kehancuran di Suriah. Padahal sejatinya yang terjadi di negeri itu adalah karena terpantik semangat revolusi “Arab Spring” di Tunisia, Mesir dan Libya. “Musim Semi” di negeri-negeri Arab ini pun menginspirasi rakyat Suriah untuk menuntut penerapan syariah Islam, bukan aturan yang lainnya. Mereka sadar hanya Islam yang bisa membebaskan dari segala penderitaan akibat kezaliman penguasa yang tak menerapkan sistem Islam. Kekukuhan mereka pada syariat Islam tentu saja mendapat hadangan rezim Bashar Assad dan asing Barat. Aksi-aksi damai rakyat sipil ternyata dibalas dengan kekerasan dan senjata. Rakyat pun melawan. Kondisi makin pelik ketika pihak-pihak luar turut campur di negeri yang tengah kacau tersebut. Bashar Assad dengan sekutunya dan Negara-negara Barat yang khawatir dengan semakin kuatnya perjuangan penegakan syariah dan khilafah menghalangi dengan berbagai cara, termasuk dengan membunuh rakyat sipil secara keji. Ribuan nyawa melayang. Tak hanya rakyat yang jadi korban, infrastruktur juga ikut porak poranda. Suriah terkoyak akibat ketamakan pemimpin pada kekuasaan. Pemimpin yang harusnya jadi pelindung, malah menjadi pembantai rakyatnya sendiri.

Syariat Islam Memberikan Perlindungan yang Sempurna Dan Menyeluruh

Penerapan Islam secara kaffah adalah kewajiban yang diperintahkan oleh Al-Khaliq, Allah SWT. Sebagaimana dalam firmanNya:

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian kepada Islam secara kaffah (menyeluruh), dan janganlah kalian mengikuti jejak-jejak syaithan karena sesungguhnya syaithan adalah musuh besar bagi kalian.” [QS. Al-Baqarah : 208]

Jelas sudah bahwa dalam berIslam haruslah secara total menerapkan semua aturanNya. Tidak pilih-pilih mana yang mudah, mana yang mendatangkan manfaat, mana yang sulit, dan seterusnya. Dengan begitu maka keberkahan dan keselamatan manusia akan terjamin.

Islam diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW untuk mengatur seluruh kehidupan manusia. Dia mengutus Rasullullah Muhammad SAW untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Sebagaimana firman Allah:

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” [QS. Al-Anbiya 107]

Islam sebagai risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad adalah untuk menjadi rahmat bagi alam semesta. Yang bermakna bahwa risalah Islam adalah untuk mewujudkan kemaslahatan bagi manusia dan mencegah kemafsadan (kerusakan) atas mereka. Risalah Islam semuanya, bukan hanya sebagian saja, akan tetapi sebagai satu kesatuan yang mampu menjadi Rahmatan li al-alamin. Kerahmatan Islam tidak akan terwujud jika hanya diambil sebagian saja, hanya sebagai simbol, asesoris atau pelengkap saja. Harus Islam yang menyeluruh, Islam yang sesungguhnya, Islam yang kaffah.

Dengan menerapkan Islam secara kaffah maka akan mampu untuk melindungi dan menjaga segala aspek dalam diri dan kehidupan manusia. Islam kaffah mampu menjaga agama, jiwa, akal, harta, keturunan, kehormatan, keamanan dan Negara. Semuanya itu saling berkaitan dan menjadi kesatuan. Tidak akan bisa menerapkan hukum potong tangan, jika problem kemiskinan atau ekonomi tidak diselesaikan dengan diterapkannya sistem ekonomi Islam. Tidak akan bisa menerapkan sanksi zina, jika masalah pergaulan bebas tidak dicegah dengan adanya penerapan sistem pergaulan sesuai syariat Islam.

Syariah Islam Menjaga agama

Penjagaan atas agama sangat diperhatikan oleh syariah Islam. Bukan hanya pada agama Islam tetapi juga terhadap agama lainnya. Islam sangat luar biasa dalam masalah toleransi dengan agama lainnya. Sejarah mencatat ketika Islam berkuasa di Spanyol, Islam menghormati dan melindungi agama lainnya seperti yahudi dan nasrani. Sampi-sampai Andalusia dikenal dengan sebutan Negara tiga agama pada masa itu. Ini menunjukkan bahwa toleransi beragama berjalan dengan harmonis.

Islam juga tak mengajarkan adanya paksaan dalam beragama. Tidak boleh memaksa seseorang untuk masuk Islam. Non muslim juga boleh beribadah menurut ajaran agamnya masing-masing. Tidak boleh menghalangi atau melarang umat beragama lain dalam menjalankan agamanya, mulai dari ibadah, makanan, pernikahan, perceraian ataupun pakaiannya. Mereka bebas untuk beribadah, makan, minum, menikah, berpakaian sesuai ajaran agama mereka. Dengan tetap mematuhi prinsip-prinsip yang diterapkan oleh Negara.

Agama sangat diperhatikan dalam Islam, sehingga tidak boleh ada muslim yang keluar dari Islam (murtad). Orang Islam yang murtad, mengaku sebagai nabi, atau menistakan Islam dan syariahnya akan dibunuh. Ini adalah bentuk penjagaan dan pencegahan Islam atas umat dari menjadi murtad ataupun pemurtadan. Ini juga akan menutup pintu atas kegiatan misionaris, baik yang terselubung maupun yang terang-terangan, sebagaimana yang sering terjadi di daerah-daerah pasca terkena bencana alam. Di Indonesia, ketika ada bencana alam melanda suatu wilayah, masalah yang sering mengemuka selain masalah penanggulangan korban terdampak biasanya adalah misinonaris terselubung pada penduduk yang beragama Islam. Masalah ini seringkali diabaikan pemerintah karena hanya terfokus pada pemberian bantuan secara fisik, rehabilitasi infrastruktur ataupun trauma healing. Sehingga masalah penjagaan akidah masyarakat muslim kurang atau malah tidak diperhatikan.

Aliran-aliran sesat juga tidak akan hidup dalam Negara yang menerapkan syariat Islam secara kaffah. Begitu ada penyimpangan akidah Islam, maka Negara akan memberantasnya. Tidak dibiarkan tumbuh dengan subur sehingga membahayakan akidah masyarakat. Ajaran, aliran, paham dan kelompok sesat dan menyimpang tidak akan diberi ruang sama sekali. Juga tak akan ada ruang sedikitpun bagi pemikiran Barat (liberalisme, sekularisme, pluralisme dan kapitalisme) berkembang di dunia pendidikan. Tidak seperti sekarang dimana kelompok menyimpang dan berbahaya dibiarkan dan dilindungi dengan dalih HAM, padahal jelas-jelas merusak masyarakat.  Malah umat yang ingin menerapkan syariah Islam secara kaffah justru dilarang, dipersekusi, dicap radikal dan anti pancasila.

Juga pelecehan dan penentangan terhadap syariah Islam tidak akan terjadi sebagaimana sekarang. Dimana ada suatu kelompok yang menyerukan penolakan penerapan syariah Islam dengan alasan membawa keburukan pada masyarakat. Sungguh tak masuk akal, bagaimana mungkin hukum yang berasal dari Tuhan, Allah Maha Agung, dikatakan sebagai penyebab kerusakan. Menolak syariah Allah berarti menentang Allah yang telah menciptakan alam semesta, manusia dan kehidupan. Semua itu tak akan dibiarkan tumbuh dalam Negara yang menerapkan syariah Islam. Akan dicegah dan diberantas dari akar-akarnya.

Syariah Islam Menjaga akal

Islam sangat menjaga akal manusia dari segala kerusakan. Maka dari itu Islam mengharamkan khamr dan segala yang memabukkan. Khamr, narkoba dan sejenisnya bisa membuat manusia kehilangan akal dan menjerumuskan kepada tindak criminal yang tidak hanya merugikan diri sendiri tetapi juga orang lain. Khamr (minuman keras) dan juga narkoba sekarang ini menjadi masalah besar yang mengancam segala lapisan masyarakat Indonesia. Dari yang tua sampai muda, dari yang kaya sampai yang berpenghasilan rendah, semuanya bisa terkena pengaruhnya. Minuman keras (miras) dengan mudahnya didapat, baik yang legal maupun oplosan. Sudah begitu banyak korban berjatuhan akibat barang haram yang oleh Rasulullah sebagai induk kejahatan.

Begitu pula dengan narkoba, menjadi momok yang mengancam generasi muda. Bahkan anak-anak pun juga tak luput dari ancaman obat-obatan terlarang ini. Sama halnya dengan miras, narkoba juga sudah menjalari seluruh lapisan masyarakat. Bahkan aparat keamanan yang seharusnya memberantas, malah turut menggunakan dan menangguk keuntungan dari bisnis barang haram ini.

Apa jadinya jika negeri dipenuhi orang yang hilang akal karena barang-barang haram ini? Tentunya, kerusakanlah yang menanti. Dan tentunya, asing akan dengan mudah menguasai dan menjajah negeri yang kaya SDM dan SDA ini.

Tak hanya khamr dan narkoba saja yang bisa merusak akal. Tontonan yang diharamkan seperti film, gambar, dan aksi-aksi porno juga bisa merusak akal manusia. Segala sesuatu yang mengandung konten pronografi dan pornoaksi juga dilarang untuk dibuat, dikonsumsi maupun didistribusikan.

Semua yang dapat merusak akal manusia itu diharamkan dan syariah memiliki sanksi yang jelas dan tegas bagi yang melanggar. Ini adalah untuk menjaga akal manusia agar senantiasa bersih dari yang merusak, sehingga setiap manusia akan mampu menggunakan akalnya sesuai dengan yang diperintahkan oleh Allah. Setiap muslim wajib menuntut ilmu, belajar, berpikir dan berijtihad sehingga kemampuan intelektual manusia akan semakin meningkat dan membawa manfaat bagi kemajuan umat.

Syariah Islam Menjaga jiwa

Tanpa aturan dan sanksi yang tegas, segala macam tindak kriminal akan terus terjadi bahkan dengan bentuk yang semakin beragam dan keji. Setiap hari media massa menyajikan berita betapa mudahnya nyawa manusia hilang. Hanya karena masalah sepele, orang bisa dengan mudah menyakiti hingga menghabisi manusia lainnya.

Penjara seolah bukan lagi ancaman sanksi yang bisa menimbulkan efek jera bagi pelaku kejahatan. Belum lagi proses penegakan hukum yang lemah dan mudah direkayasa, menjadikan tindak kriminal semakin bebas dan meluas.

Begitu pula tindak kezaliman yang menimpa umat muslim di Uighur, Rohingya, Suriah, Palestina serta di berbagai belahan dunia lainnya, tidak akan terus berlangsung. Dimana para pemimpin Negara muslim, seolah tak berdaya di hadapan musuh-musuh Islam dan tak mampu memberi pembelaannya. Padahal kezaliman itu terjadi di depan mata.

Namun, dengan syariah Islam, segala tindak kriminal akan mendapatkan sanksi yang tegas, adil dan memberi efek jera. Sebagai contoh untuk kasus pembunuhan, menurut syariat hukumannya adalah diyat (tebusan) atau qishash (dibunuh). Sebagaimana firman Allah:

 Di dalam qishâsh itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagi kalian, hai orang-orang yang berakal, supaya kalian bertakwa (QS al-Baqarah [5]: 179).

Hukum syariah yang diturunkan Allah bagi manusia tentunya adalah untuk kebaikan umat manusia seluruhnya. Begitu pula dengan sanksi hukuman untuk pembunuhan yang tidak sesuai dengan syariat. Tujuannya adalah untuk menjaga darah dan jiwa manusia. Inilah bentuk rahmat syariah Islam bagi umat manusia seluruhnya. Demikian pula dengan umat Muslim di Uighur, Rohingya, Palestina, Suriah dan dimanapun berada akan senantiasa terjaga kehidupannya. Tidak akan ada darah yang menetes dan nyawa yang melayang begitu saja tanpa ada keadilan.

 Syariah Islam Menjaga harta

Sistem hukum yang lemah, tingkat kesejahteraan yang rendah dan kesenjangan sosial yang semakin melebar menjadi sejumlah alasan mengapa tindak kriminal pengambilan harta orang lain terus terjadi. Mengambil harta atau hak orang lain seperti merampok, korupsi, menipu dan sejenisnya kian meningkat jumlahnya dari tahun ke tahun. Mulai dari maling dalam jumlah kecil sampai dalam angka milyaran bahkan triliunan tak ragu dilakukan. Tak ada rasa takut akan sanksi penjara yang menanti. Bahkan tak jarang penjara menjadi tempat belajar modus baru tindak kriminal lainnya.

Ini jelas beda dengan sistem Islam. Sanksi yang keras sudah pasti akan diterapkan bagi pelaku pencurian. Hukum potong tangan, bagi pelakunya, baik muslim maupun non muslim, akan memberi efek jera yang tegas dan jelas bagi seluruh masyarakat. Orang akan berpikir seribu kali untuk mencuri karena hukuman yang keras akan mendera mereka jika terbukti melakukannya.

Sedangkan bagi perampok, pelaku ghasab (penipuan) dan korupsi akan dikenai sanksi ta’zir yang hukumannya diserahkan kepada hakim. Jelas, hukumannya sangat adil dan tegas.

Apalagi tindak perampokan SDA yang dilakukan oleh asing dengan berbalut kerjasama ekonomi. Tak akan kekayaan alam yang melimpah ini diserahkan kepada asing dengan alasan tak mampu mengelola. Sumber daya alam akan dikelola oleh Negara untuk kesejahteraan masyarakat seluruhnya.

Syariah Islam Menjaga Nasab (keturunan)

Sistem kufur tak memperhatikan tentang keturunan. Karena yang diutamakan adalah hawa nafsu, maka tak heran jika pergaulan bebas, perzinahan, penyimpangan seks semakin marak. Prinsip liberalisme membuat segala macam pemikiran maupun perilaku menyimpang dibolehkan dan dilindungi dengan dalih HAM. Meski merusak dan mengancam generasi, LGBT bisa hidup secara bebas dan menyebarkan virusnya. Kaum menyimpang ini kian berani menunjukkan eksistensinya dan memperbanyak pengikutnya melalui berbagai cara dan media. Begitu pula dengan pergaulan bebas yang kian marak di kalangan pelajar, jumlahnya kian meningkat setiap tahun. Betapa banyak sudah kasus aborsi atau pembuangan bayi akibat hamil di luar nikah yang dilakukan oleh mereka yang masih berstatus pelajar atau mahasiswi. Perzinahan yang semakin terang-terangan dilakukan, seolah sudah tak punya rasa malu dan takut. Beragam kerusakan ini akibat sistem kufur yang tidak memperhatikan naluri dan fitrah manusia.

Dalam Islam, setiap pelaku zina, sodomi, homoseksual, atau lesbianisme ada sanksi tegasnya. Pelaku zina yang sudah menikah hukumannya adalah dibunuh, sedangkan pelaku zina yang belum menikah adalah dicambuk 100 kali. Untuk pelaku sodomi dan homoseksual hukumannya adalah dibunuh. Sementara untuk lesbianisme sanksinya adalah ta’zir yang hukumannya ditentukan oleh hakim.

Untuk melindungi dan melestarikan keturunan, Islam memerintahkan dengan menikah. Setiap manusia memiliki naluri terhadap lawan jenis, karena itulah penyalurannya diatur dengan melakukan pernikahan bagi yang sudah mampu. Sementara bagi mereka yang belum mampu, maka sangat dianjurkan untuk berpuasa atau melakukan aktivitas lain yang lebih bermanfaat dan produktif sesuai syariah. Dengan begini, keturunan manusia akan terjaga dan masyarakat akan terbebas dari beragai perilaku menyimpang.

Syariah Islam Menjaga Kehormatan

Islam memiliki konsep asas praduga tak bersalah, yaitu tidak boleh menuduh orang lain bersalah tanpa adanya bukti yang jelas. Tidak boleh menuduh orang lain sembarangan. Jika menuduh orang lain berzina, misalnya, maka ia harus punya empat saksi. Jika tidak bisa menghadirkan saksi maka ia akan dikenai had, dihukum 80 cambukan dan kesaksiannya tidak akan diterima selamanya.

Berbeda jauh dengan kondisi umat Islam sekarang ini, dimana kehormatan seolah tak ada harganya. Kasus terorisme, dimana terduga pelakunya selalu digambarkan sebagai muslim. Bahkan ketika masih diduga sebagai pelaku, sudah dihabisi duluan, sehingga tidak bisa membela diri atau dibuktikan kebenarannya di pengadilan. Juga kasus fitnah dan pencemaran nama baik yang banyak menimpa para ulama dan tokoh umat. Tidak ditangani secara adil dan proporsional. Namun jika tersangka pelakunya adalah muslim atau pihak yang bersebrangan dengan rezim berkuasa, maka kasus akan cepat ditangani dan diputuskan pengadilan bersalah. Berbagai fitnah keji dan tuduhan yang direkayasa sangat menghinakan Islam, umat Muslim dan tokoh-tokohnya. Sungguh tak ada kehormatan bagi umat dalam sistem kufur.

Juga tak akan ada umat muslim yang tersia-siakan kehormatannya, seperti yang tengah terjadi Uighur, Rohingya, Suriah, Palestina dan di berbagai belahan dunia manapun saat ini. Kehormatan dan martabat mereka sebagai manusia tak terjaga sama sekali, sehingga kafir dengan seenaknya melecehkan, menghinakan, merendahkan dan berbuat apapun. Islam akan menghentikan semua itu. Syariah akan melindungi kehormatan setiap manusia.

Syariah Islam Menjaga Keamanan

Syariah Islam memiliki cara untuk menjaga keamanan masyarakat, yaitu dengan menerapkan sistem sanksi yang jelas terhadap pelaku kejahatan jalanan. Pembegal jalanan misalnya, hukumannya adalah potong tangan sesuai pelanggarannya. Jika hanya melakukan terror, maka sanksinya adalah pengusiran jauh dari negerinya. Jika melakukan pembunuhan, maka hukumannya juga dibunuh. Jika membunuh disertai merampas, maka hukumannya adalah dibunuh dan disalib.

Dengan sanksi hukuman yang keras dan tegas ini, maka bisa menimbulkan efek jera. Sehingga kejahatan jalanan akan hilang dan keamanan masyarakat akan terus terjaga. Tak akan ada preman jalanan, maupun preman berdasi yang memalak rakyat kecil. Kejahatan hanya akan bisa dihentikan dengan sistem hukum yang pasti yang bersumber dari Sang Pembuat Aturan.

Syariah Islam Menjaga Negara

Kasus penembakan oleh KKB (kelompok kriminal bersenjata) awal Desember lalu terhadap karyawan PT Istaka Karya yang mengerjakan pembangunan jembatan Yigi di Kabupaten Nduga adalah yang kesekian kalinya terjadi di negeri ini. Penembakan yang menyebabkan hilangnya 30-an nyawa ini adalah kasus separatisme yang tak pernah tuntas ditangani. Setiap tahun selalu ada saja aksi-aksi mereka yang mengancam kesatuan Negara. Tujuan mereka adalah memisahkan diri dari Negara dengan mendapat dukungan dari asing. Tindakan separatisme jelas meresahkan masyarakat dan mengancam kesatuan dan kedaulatan Negara.

Dalam Islam, jika ada kelompok semacam KKB, OPM atau kelompok separatis lainnya maka hukumnya adalah haram. Karena itulah, Negara harus menghentikannya dan menghilangkannya sampai ke akar-akarnya. Wajib bagi Negara untuk mempertahankan wilayah kedaulatannya dengan kekuatan senjata. Harus tegas agar jangan sampai meluas ke wilayah lainnya, ataupun ditunggangi oleh asing yang senantiasa mengincar demi tujuan tertentu.

Jadi seperti itulah syariah Islam yang benar-benar melakukan penjagaan terhadap manusia dan setiap aspek kehidupannya secara menyeluruh dan sempurna. Sehingga kedamaian dan ketentraman senantiasa meliputi negeri. Contoh yang paling nyata dan terbaru adalah reuni 212 di Jakarta beberapa waktu lalu. Masih segar dalam ingatan kita betapa luar biasanya acara itu dimana jutaan orang dari berbagai wilayah berkumpul dalam satu tempat namun tetap tertib, tidak ada kerusuhan ataupun kerusakan. Saling menjaga adab, saling memberi apa yang mereka miliki, saling membantu satu sama lain. Mereka bahkan saling mengingatkan untuk menjaga agar jangan sampai ada sehelai rumput pun yang diinjak atau terinjak. Jika rumput saja dijaga apatah lagi manusianya.

Begitulah indahnya syariah Islam. Urusan kecil saja sangat diperhatikan apalagi urusan yang lebih besar. Sudah cukup negeri ini mengalami berbagai macam kerusakan di segala lini kehidupan. Sudah saatnya bergerak maju, meninggalkan sistem rusak buatan manusia yang terbukti hanya menimbulkan berbagai macam masalah. Saatnya kita membuktikan kepedulian kecintaan kita kepada negeri yang dikarunia kelimpahan SDA ini dengan menerapkan sistem agung dari Sang Maha Agung. Karena itu, “Ayo Syariahkan Indonesia!”

Jadi, ditengah banyaknya nyinyiran, stigma negatif, opini buruk, framing jahat, persekusi oleh para pembenci syariat Islam, teruslah bergerak berjuang untuk menegakkan syariah Islam. Abaikan para haters syariah dan khilafah yang gagal paham karena terlalu banyak barang haram yang menjejali tubuh mereka. Sehingga mereka tak sanggup berpikir dengan jernih dan melihat kebaikan syariah. Haters gonna hate, no matter how good you are. Doakan saja mereka yang membenci syariah akan mendapatkan kesempatan untuk bertobat dan ikut memperjuangkannya. Teruslah memberi penyadaran pada umat tentang mulianya syariah Islam. Karena hanya dengan penerapan syariah Islam secara kaffah, negeri ini akan terbebas dari berbagai masalah multi dimensi yang membelit sampai ke sum sum tulang. Hanya dengan syariah Islam kaffah, rahmat dan keberkahan akan melimpahi negeri ini. Syariah Islam terlalu agung untuk kita tinggalkan hanya karena takut ancaman para pembencinya atau khawatir kehilangan dunia yang fana ini. Sekali lagi, terus berjuang dan “Ayo Syariahkan Indonesia”. Wallahu ‘alam bish-shawab. []

********

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.