AS Pegang Kendali Bantuan Kemanusiaan

21

Oleh : Mar’ah Sholihah (Muslimah Community)

Sudah jatuh tertimpa tangga. Inilah kira-kira gambaran yang pas buat penduduk Palestina yang sudah lama tertindas. Setelah sekian lama berada dalam tekanan militer Israel, menerima blokade dari Mesir dan terakhir pemindahan ibu kota Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem. AS membikin ulah lagi dengan menahan bantuan kemanusiaan yang dihimpun oleh UNRWA. Selama ini bantuan kemanusiaan dari berbagai negara dihimpun dan dikelola oleh UNRWA.  Benerapa hari yang lalu Trump telah menahan bantuan sebesar 305 juta dolar AS. http://republika.co.id/r/p7qnfd382

Bantuan makanan darurat untuk sekitar satu juta warga Palestina di Gaza diperkirakan habis pada bulan Juni. UNRWA tidak dapat mengumpulkan lagi dana bantuan sebesar 200 juta dolar AS, setelah adanya pemotongan donasi oleh AS. Pietter Kraehenbuehl yang menjadi kepala UNRWA mengatakan pemotongan itu lebih besar dari pemotongan 65 juta dolar AS yang dilaporkan januari lalu. Karena itu dia akan mencari bantuan dari negara yang lain.

Misi di balik bantuan

Jika pemberi bantuan terhadap Palestina, Suriah dan negeri lain yang dalam kondisi konflik adalah bantuan dari negeri muslim tentu tak diragukan bahwa itu murni bantuan kemanusiaan. Tetapi ketika AS yang memberikan bantuan, maka timbul pertanyaan. Benarkah murni bantuan tanpa pamrih ? Mengingat selama ini yang mendukung penuh Israel dengan dominasi militernya di Palestina adalah AS sendiri. Karena itu banyak diplomat barat mensinyalir keputusan Trump adalah sebagai reaksi terhadap kecaman banyak negara di timteng atas keputusannya mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada 6 desember lalu, sebelum ada penyelesaian perdamaian. Selain itu juga dalam rangka tetap mengendalikan stabilnya kawasan yang sudah berada dalam cengkeraman.

Sikap Trump dengan memotong bantuan yang diberikan menunjukkan jati diri AS yang sebenarnya. Arogansi yang makin nyata. Bahwa kepentingan mereka adalah yang paling utama. Tindakan penahanan bantuan kemanusiaan melalui UNRWA pun tetap dilakukannya, sekalipun resikonya akan merenggut nyawa ribuan orang,  tak jadi soal asal kepentingannya tercapai. Atas nama kemanusiaan pun diabaikan.

Fakta ini sekaligus menunjukkan bahwa bantuan kemanusiaan memang bukan solusi final. UNRWA tak berkutik ketika AS memotong bantuan mereka. Bantuan bahkan bisa dijadikan sebagai alat politik untuk menekan negara lain untuk mewujudkan kepentingannya.

Bukan rahasia lagi bahwa terkadang dibalik pemberian bantuan kemanusiaan oleh negara barat ada misi terselubung. Selain memudahkan masuk ke dalam satu wilayah, juga menjadikan ketergantungan pada negara pendonor. Tak hanya itu dalih bantuan kemanusiaan pun bisa menjadi alat politik untuk menekan, mengancam negara lain. Kasus Palestina adalah salah satu contohnya.

Tak dipungkiri hawa kebangkitan Islam mulai makin terasa di berbagai penjuru negeri utamanya negeri muslim. Sebenarnya hal ini terjadi akibat kejahatan kapitalisme yang telah menyebabkan kesengsaraan di berbagai belahan negeri. Tentu AS sebagai kampiun negara kapitalis tak akan membiarkan benih kekuatan islam muncul kembali. Karena itulah kepentingan penguasaan wilayah, melalui konflik maupun pemberian bantuan adalah salah satu strategi agar negeri kaum muslimin tetap berada dalam cengkermannnya. Tak terfikirkan lagi untuk bangkit dan membangun peradaban. Tapi apakah upaya demikian akan bisa menahan laju kebangkitan Islam ?

JASA EDIT VIDEO, VIDEO SHOOTING, VIDEO COMPANY PROFILE Telp. 0818 0490 4762

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here