Arah Kebijakan Pendidikan Sekuler Makin Merusak Generasi

65

Penulis : Astri /Pendidik Generasi

Siswa lakukan kekerasan terhadap guru adalah kasus berulang yang terjadi dalam sistem pendidikan sekuler saat ini. Coba saja kita googling dengan kata kunci kekerasan terhadap guru, akan banyak sekali kasus yang dapat kita temukan salah satunya yang diberitakan di laman news.detik.com yang bertajuk “Guru di Manado Ternyata Dikeroyok Sebelum Ditikam, Satu Pelajar Ditangkap“  , dijelaskan bahwa Alexander Warupangkey (54), guru SMK Ichtus, Manado, Sulut, ternyata lebih dulu dikeroyok sebelum ditikam hingga tewas oleh muridnya. Alasannya sepele, hanya karena sang murid tersinggung ditegur merokok oleh sang guru.

Sudah begitu memprihatinkankah kondisi pendidikan kita sekarang ini ?, sekolah seyogyanya tidak hanya memberikan pendidikan akademis namun juga pendidikan karakter pribadi yang baik, namun saat ini pendidikan karakter yang dijalankan pemerintah makin nampak nyata apa yg dimaksud yakni output pendidikan berupa manusia sekuler liberal, tanpa iman,  SDM ‘siap kerja’ dan  buruh bagi industry kapitalis.

Seperti yang disampaikan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo saat mengumumkan sosok yang akan membantunya di periode 2019-2024, kursi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan diberikan kepada Nadiem Makarim. Jokowi meminta Nadiem untuk membuat terobosan di dunia pendidikan. Ia ingin pendiri Gojek itu menyiapkan sumber daya manusia (SDM) siap kerja dan usaha.

“Kita akan membuat terobosan yang signifikan dalam pengembangan SDM, SDM siap kerja, siap berusaha, yang link and matched antara pendidikan dan industri,” ucapnya.(www.kumparan.com, 23-10-2019)

Hal ini senada dengan muatan sekulerisme pada program pendidikan karakter yang harus dikuasai ada 6 (enam) yaitu literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi finansial, literasi digital dan literasi kebudayaan dan kewarganegaraan.

6 (enam) literasi dasar yang harus dikuasai menjadi sangat penting untuk mengahadapi tantangan revolusi industri 4.0. ujar Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sebelumnya, yaitu Muhadjir Effendy (www.jeda.id, 10-9-2019).

Jelas dari 6 (enam) literasi dasar yang harus dikuasai tidak ada literasi terkait keagamaan.

Murid hanya dipaksa untuk mempelajari pendidikan akademis, namun sangat minim pendidikan karakter pribadi yang baik sesuai dengan syariah agama.

Bandingkan dengan pendidikan dalam naungan Islam. Di dalam Islam pendidikan tidak hanya mempelajari akademis, namun juga mendidik siswa agar memiliki akhlakul karimah. Karena tujuan pendidikan dalam Islam tidak hanya sekedar transfer ilmu dari seorang guru ke siswa.

Dalam pandangan Islam guru bukan hanya sebuah profesi, namun guru memiliki nilai esensi yang terkandung dalam namanya yaitu sebagai pendidik. Ia menyampaikan dan menyebarluaskan ilmu yang bermanfaat kepada orang lain sekaligus mendidik siswa supaya menjadi generasi yang cerdas secara akademis dan memiliki syaksiyah Islamiyah (kepribadian Islam).

Pendidikan Islam akan menghasilkan siswa yang baik akademisnya dan juga baik kepribadiannya, sehingga tidak akan ditemukan lagi siswa yang berani menantang guru atau lebih parah lagi menganiaya guru.

“Allah akan meninggikan orang-orang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kami kerjakan” (QS. Al-Mujahadah : 11)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.