Antara Toleransi dan Stigmatisasi Agama

Menara Masjid Al-Aqsha Sentani yang Dituntut Dibongkar

Oleh: Dian Agustina, S.Pd (Pengajar TPA Al-Muqorrobuun dan Anggota Penulis Perindu Jannah)

Papua geger, beberapa hari yang lalu digemparkan dengan kasus tuntutan pembongkaran menara masjid Al-Aqsa Sentani oleh Persekutuan Gereja-Gereja di Kabupaten Jayapura (PGGJ).  Hal ini dikarenakan menara masjid Al-Aqsa lebih tinggi dari bangunan gereja. Tidak hanya itu, PGGJ juga persoalkan suara adzan, busana keagamaan dan keberadaan mushola yang dianggap mengganggu masyarakat sekitar. Apakah hal ini akan diselesaikan dengan menyetujui permintaan tuntutan PGGJ atau tidak, stigma bahwa orang-orang Islam harus selalu bertoleransi terhadap non muslim atau dengan kata lain mayoritas harus toleransi terhadap minoritas agaknya selalu dipaksakan.

Tuntutan pembongkaran masjid membawakan ingatan akan tragedi penyerangan umat Islam dan pembakaran masjid ketika sholat Idul Fitri di Papua oleh jamaat Gereja Injil di Indonesia (GIDI). Pada waktu itu, media yang menyiarkan peristiwa tersebut seakan menutupi kenyataan yang terjadi. Mengarahkan pada persepsi umat Islam yang salah, yang dibakar hanya mushola, kios, atau aksi tidak ditujukan kepada umat Islam. Hal ini sangat berbeda ketika ada perusakan rumah ibadah non muslim, dengan serta merta media menyebut aksi tersebut sebagai tindakan teror dan pelakunya disebut teroris. Ketidakberimbangan media dalam menyampaikan fakta tersebut menunjukkan bahwa stigmatisasi negatif masih tertuju pada umat Islam, yang masih dianggap intoleran.

Tuduhan umat Islam yang tidak toleran (intoleran) adalah tuduhan tak mendasar. Pasalnya dalam prakteknya Nabi Muhammad yang merupakan representasi dari ajaran Islam justru menampakkan toleransi yang apik antar agama. Sebut saja “Piagam Madinah” yang mampu mengatur kaum Muslim, Yahudi, Nashrani, dan juga kaum Musyrik dalam sebuah kekuasaan. Di antara wujud toleransi itu adalah sikap saling menghormati di antara agama yang ada, tidak saling menyakiti dan saling melindungi siapa saja yang terikat dalam Piagam Madinah. Walhasil mereka hidup berdampingan dan terlindungi baik kehormatan, jiwa dan harta.

Selain Baginda Rasululloh, ada juga sosok yang tegas, keras dan sangat ditakuti seluruh manusia nyatanya mampu mewujudkan toleransi setelah tersentuh dengan Islam. Beliau adalah Umar bin Khathab sosok pemimpin yang mampu memberikan jaminan keamanan, keselamatan dan “kebebasan” dalam beribadah. Karen Amstrong dalam bukunya “Holy War” menggambarkan saat-saat penyerahan kunci Baitul Maqdis kepada Umar bin Khathab pada tahun 637 M. Pada saat itu  seorang Uskup bernama Sofronius sangat ketakutan melihat kedatangan beliau. Ia khawatir akan terjadi pembantaian pasca pembebasan Palestina oleh umat Islam. Namun, kekhawatiran Sofronius sama sekali tidak terbukti. Bahkan, penduduk Palestina hidup damai, tentram, mereka bebas memeluk agama dan keyakinan mereka. Padahal Palestina memiliki tiga agama besar yang berbeda, Islam, Kristen, dan Yahudi.

Hal serupa juga pernah terjadi pada masa akhir penerapan Islam atau masa Utsmaniyah. Arnold J. Toynbee  sejarahwan Inggris, dalam bukunya “Preaching of Islam.”  Dia menyatakan “The treatment of their Christian subjects by the Ottoman emperors—at least for two centuries after their conquest of Greece—exhibits a toleration such as was at that time quite unknown in the rest of Europe (Perlakuan terhadap warga Kristen oleh pemerintahan Khilafah Turki Utsmani—selama kurang lebih dua abad setelah penaklukan Yunani—telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa).” (The Preaching of Islam: A History of the Propagation of the Muslim Faith, 1896, hlm. 134).

Itulah gambaran betapa umat Islam memiliki sikap toleransi, sikap saling menghormati, menghargai keyakinan masing–masing. Dalam surat al-Kafiruun ayat terakhir disampaikan “lakum diinukum waliyadiin” (untukmu agamamu dan untukku agamaku). Dan dalam surat al-Baqoroh ayat 256 disampaikan “laa ikrooha fiddin” (tidak ada paksaan dalam memeluk agama). Ayat-ayat tersebut dengan jelas menggambarkan bagaimana kaum muslim bersikap terhadap non muslim.

Maka stigma negatif bahwa muslim intoleran adalah salah. Justru yang harus dikaji adalah sikap PGGJ yang berlebihan meminta toleransi umat Islam atau dengan kata lain merekalah yang intoleran terhadap umat Islam. Karena sudah menyangkut ajaran agama Islam yang harusnya dihormati oleh agama lain dan dilindungi negara. Begitu pula jika ada tindakan intoleran muncul dari diri seorang muslim, maka sikap seperti itu pada dasarnya tidak diajarkan dalam Islam dan bukan representasi dari ajaran Islam. Masih sangat terbuka kemungkinan bahwa hal tersebut disebabkan oleh faktor “sentuhan” tangan-tangan pihak eksternal yang ingin mencitraburukkan ajaran agama Islam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.