Andai Amanah

Oleh: Nurul Fadhilah (Aktivis Muslimah Malang Raya)

Amanah, hal yang terlihat sangat kecil namun besar tanggungannya disisi Sang Rabb yang Maha Mengatahui. Tanpa terasa hidup didunia yang fana kadang membuat manusia lupa dengan kampung halamannya yakni akhirat, ia lupa dengan tabungan persiapannya, ia lupa bahwa ia sedang berlomba untuk meraih kedudukan yang tinggi dan piala kemenangan di akhir hayat kelak, manusia terlena terpaku dengan keindahan dunia yang pada hakikatnya akan sirna begitu saja. Sebagaimana Firman Allah Swt:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allâh. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. (Al-Munafiqun/63: 9)

Imam Ibnu Katsîr rahimahullah berkata tentang ayat ini, “Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan para hambaNya yang beriman untuk banyak mengingatNya dan melarang mereka sibuk dengan harta serta anak-anak sampai lupa dzikir. Allâh juga memberitakan kepada mereka bahwa barangsiapa terlalaikan oleh kesenangan kehidupan dunia dan segala perhiasannya dari tujuan utama penciptaannya yaitu mentaati Rabbnya dan selalu mengingatNya, maka dia termasuk orang-orang yang merugi. Yang merugikan diri mereka sendiri beserta keluarga mereka pada hari kiamat.”

Begitulah manusia, tempatnya salah dan lupa, namun sayang kata “manusia sebagai tempatnya salah dan dosa”, kadang salah diartikan dan di interpretasikan,  bahkan kata ini dapat menjadi legitimasi bagi seseorang atau segolongan orang untuk istiqomah dalam kemaksiatan pada Allah Swt, hal seperti inilah yang sangat disayangkan, begitu pula dalam hal menjaga amanah.

Dalam menjaga amanah, bukanlah perkara yang ringan dan gampang, melainkan  menjadi kesulitan tersendiri bagi setiap individu untuk selalu dalam menjaga amanah.  Oleh sebab itu setiap amanah yang telah diberikan oleh Allah Swt kepada manusia, maka hendaklah manuisa itu mau menjalankan setiap amanahnya dengan dorongan keimanan, sehingga dalam menjaga amanah tak akan terasa baik amanahnya menjadi amanah yang ringan  ataupun menjadi amanah yang berat.

Termasuk dalam menjadi seorang pemimpin, sebab seorang pemimpin memegang amanah yang besar dari setiap anggota kelompoknya, begitu pula dalam menjadi pemimpin sebuah negeri , sangat membutuhkan pada orang-orang yang memang memiliki tingkat keimanan yang tinggi, yang akihirnya dapat menjaga amanah yang telah dipercayakan rakyat kepadanya.

Apa jadinya jika penguasa dan pejabat negara tidak dapat menjaga amanah? Sudah pasti banyak terjadi  kerusakan dan tidak adanya keridhoan dari Allah Swt. Sebab itu didunia yang penuh tipu daya ini rakyat membutuhkan seorang pemimpin yang amanah, yang akan membawa masyarakat menuju pada kebaikan serta keridhaan Allah Swt. Yakni dapat membawa rakyat dipimpinnya selalu dalam naungan syariah islam, dan senantiasa membuat kebijakan yang sesuai dengan perintah-perintah Allah. Dan semua itu, tidak mungkin dapat dilakukan kecuali dengan adanya penerapan Aturan-aturan islam secara kaffah yang tersistematis dalam gambaran kepemimpinan dalam islam. Sebagaimana dalam firman Allah Swt.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (Al-Baqarah: 208).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.