Ancaman Bahaya “Game Online” bagi Peserta Didik

257

Oleh : Achmad Fathoni, S.Pd.SD*

     Dalam satu dekade terakhir, perkembangan dunia teknologi informasi semakin pesat. Bahkan dalam setiap lini dan urusan tidak bisa terlepas dengan memanfaatkan teknologi informasi. Termasuk untuk pembelajaran di dunia pendidikan. Dampak positif dengan hadirnya perangkat elektronik yang memanfaatkan teknologi informasi tentu sangat banyak. Namun demikian, dampak negatif dari teknologi informasi juga patut diwaspadai oleh orang tua, guru, maupun masyarakat luas.

     Salah satu dampak yang patut diwaspadai adalah dengan maraknya permainan game online yang sebagian besar penggunanya adalah remaja usia sekolah. Menjamurnya warnet (warung internet) yang menyediakan fasilitas game online, menjadi daya tarik yang luar biasa pada generasi muda kita. Publik pun sebenarnya bisa menyaksikan ramainya anak-anak remaja usia sekolah yang nongkrong di warnet-warnet yang hampir ada disetiap sudut pemukiman penduduk.

     Terkait dengan hal itu, ada pemberitaan di laman kompas.com pada Senin (18/6/2018) melansir sebuah tulisan yang di keluarkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang merupakan salah satu lembaga dunia di bawah naungan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Setelah mempertimbangkan banyak hal, WHO resmi menetapkan kecanduan game (game disorder) sebagai penyakit gangguan mental.

     Hal ini setelah WHO menambahkan kecanduan game ke dalam versi terbaru International Statistical Classification of Diseases (ICD). ICD merupakan sistem yang berisi daftar penyakit berikut gejala, tanda, dan penyebab yang dikeluarkan WHO. Berkaitan dengan kecanduan game, WHO memasukkannya ke daftar “disorder due to addictive behavior” atau penyakit yang disebabkan oleh kebiasaan atau kecanduan. Dirangkum Science Alert, Selasa (19/6/2018), kecanduan game bisa disebut penyakit bila memenuhi tiga hal antara lain, (1) seseorang tidak bisa mengendalikan kebiasaan bermain game, (2) seseorang mulai memprioritaskan game di atas kegiatan lain, (3) seseorang terus bermain game meski ada konsekuensi negatif yang jelas terlihat. WHO mengatakan, ketiga hal itu harus terjadi atau terlihat selama satu tahun sebelum diagnosis dibuat.

     Selain itu, WHO mengatakan permainan di sini mencakup berbagai jenis permainan yang dimainkan seorang diri atau bersama-sama orang lain, baik itu online maupun offline. Meskipun demikian, bukan berarti semua jenis permainan bersifak adiktif dan dapat menyebabkan gangguan. “Bermain game disebut sebagai gangguan mental hanya apabila permainan itu mengganggu atau merusak kehidupan pribadi, keluarga, sosial, pekerjaan, dan pendidikan,” menurut WHO. “Sudah banyak cukup bukti yang menunjukkkan kecanduan game dapat menimbulkan masalah kesehatan,” tulis WHO dalam situs resminya (http://sains.kompas.com/read/2018/06/19/192900123/who-resmi-tetapkan-kecanduan-game-sebagai-gangguan-mental?utm source=Whatsapp).

    Hal itu, secara faktual dikuatkan dengan kisah nyata yang dituturkan dari salah satu kerabat kolega penulis. Dia mempunyai seorang keponakan yang boleh dikatakan “game maniac” (kecanduan game). Sepulang sekolah, senantiasa asyik di kamar dan jarang keluar, karena selalu asyik dengan memainkan tuts-tuts di keyboard computer untuk bermain game di kamarnya. Bahkan sang keponakan bisa lupa makan, lupa shalat, lupa tidur, dan lupa segalanya jika sedang bermain game. Singkat cerita, suatu ketika sang keponakan melanjutkan studi ke perguruan tinggi di kota lain. Suatu ketika dia mengalami kejang-kejang di kamar kosnya. Setelah dibawa ke rumah sakit dan dilakukan pemerikasaan, hasilnya negatif dari semua penyakit. Namun peristiwa kejang-kejang tersebut berulang dalam frekuensi tertentu. Akhirnya keluarganya berkonsultasi kepada salah satu dokter spesialis. Setelah dilakukan diagnosis yang cukup intensif, maka sang dokter memvonis bahwa sakit kejang-kejang tersebut diakibatkan karena seringnya sang keponakan bermain game. Dan oleh dokter disarankan untuk tidak boleh berkendaraan bermotor sendiri, tidak boleh berjalan kaki di jalan sendirian, dan lain sebagainya. Karena hal itu bisa menyebabkan resiko yang fatal pada dirinya yaitu kematian.

Dampak Negatif Permainan Game

     Sebagaimana dilansir pada laman loop.co.id pada 29 Juni 2015, menyebutkan ada 10 dampak negatif bagi gemer (pemain game) yang kecanduan bermain game, antara lain:

  1. Kurang Tidur

      Biasanya ketika seseorang yang sedang asyik main game, biasanya mengabaikan rasa kantuk. Maka jadilah gamer terlalu asyik memainkan sebuah permaian, hingga waktu tidurnya akan berkurang.

  1. Malas Mandi

     Jika gamer sudah berada di depan laptop, dapat dipastikan pelakunya akan malas bergerak kemana-kemana. Akibatnya, gamer tidak akan dapat mendengar panggilan orang lain, misal dari orang tua atau temannya. Sehingga hampir bisa dipastikan para gamer akan malas mandi.

  1. Mengasingkan Diri

     Biasanya para gamer sering berkomuniklasi dengan lawan mainnya di dunia maya, tetapi mereka malas bersosialisasi dengan teman-teman di dunia nyata. Hal itu, disebabkan anggapan bahwa realitas di dunia nyata kadang tidak sesuai dengan bayangan atau impiannya. Pada kondisi yang akut, bisa menyebabkan gangguan atau syndrome dalam bersosialisasi dengan masyarakat.

  1. Depresi

     Keadaaan ini dapat terjadi pada gamer yang sudah addicted (kecanduan) berat pada permainan game. Jika dia tidak main game dalam sehari saja, maka dia mengalami ketidaktenangan atau ada sesuatu yang mengganjal, yang mendorong kuat dalam dirinya untuk melakuakan permainan game. Sehingga dia seakan-akan menjadikan permainan game sebagai kebutuhan pokoknya. Tentu kondisi ini sangat berbahaya bagi pelakunya.

  1. Mengalami Stres

     Seringkali game itu memberikan sebuah kompetisi atau persaingan yang membuat pelakunya mencari segala cara untuk memenagkan game itu. Jika tidak menang alias kalah, maka pelakunya akan terdorong mencoba lagi sampai penyesalan yang sangat jika kalah terus-menerus. Nah, itulah penyebab stress. Anehnya, jika gamer sudah merasa stress, cara mengatasinya adalah dengan tetap bermain game dan melupakan waktu. Tentu saja, jika itu terjadi secara massal dan massif maka bisa dipastikan akan menyebabkan kerusakan mental yang parah pada generasi muda kita.

  1. Arthritis dan Carpal Tunnel Syndrome

     Arthritis adalah kelainan sendi yang meliputi peradangan. Sedangkan Carpal Tunnel Syndrome adalah tekanan pada syaraf di pergelangan tangan. Nah, terlalu sering main game dapat memperbesar kemungkinan terjangkit dua penyakin tersebut. Hal itu disebabkan karena saat main game, jari-jari tangan gamer bergerak aktif tanpa isyarat.

  1. Kehilangan Nafsu Makan

     Sebagaimana pada nomor satu, para gamer kehilangan nafsu makan, karena sangat fokus bermain game. Jika waktu makan tiba, dia sering menundanya. Dan jika hal itu terjadi secara berulang dan terus-menerus bisa menyebabkan gangguan pencernaan dan adan menurunkan stamina tubuh. Tentu saja, ini akan mengganggu kesehatan tubuh pelakunya.

  1. Agresif

     Akibat negatif lain, terlalu sering main game adalah karena terlalu berambisi memenangkan suatu permainan, para gamer bisa menjadi agresif dan ambisius yang berlebihan. Misalnya, mudah marah jika aktivitas bermain game terganggu orang lain. Bahkan di antara mereka ada yang bersikap brutal, suka tawuran, tak segan-segan menyakiti orang lain yang dianggap “lawan”. Semuanya itu akibat meniru adegan yang ada di permainan game. Tentu saja, sikap ini sangat berbahaya jika menjangkiti peserta didik yang sebagian besar masih berada di usia muda.

  1. Sakit Mata

     Akibat dari terlalu sering menatap layar laptop, komputer, ataupun layar handphone, maka mata para gamer sering terkena radiasi yang terpancar. Apalagi jika terjadi dalam waktu yang relatif lama, bisa diindikasi dia kan terserang sakit mata, dan mengalami rabun atau buram saat melihat. Penyakit ini tentu sangat merugikan peserta didik kita.

  1. Mudah Lelah

     Terlalu sering duduk di depan laptop, computer, ataupun layar handphone bisa menyebabkan tulang dan persendian para gamer terasa pagal-pegal. Itu disebabkan tubuh pelakunya tidak menggerakkan anggota tubuhnya. Ketika lama duduk, pasti terasa sakit karena badan belum siap digerakkan. Yang pada akhirnya bisa menyebabkan sakit tulang dan persendian.

     Hasil penelitian lain, yang menggunakan metode penelitian kualitatif menunjukkan bahwa pelajar lebih suka bermain game online daripada belajar ataupun yang lainnya. Bahkan pada 2017 menurut lembaga riset pemasaran asal Amsterdam, Newzoo, ada 43,7 juta gamer (56% di antaranya laki-laki) di negeri ini yang membelanjakan total US$ 880 juta. Jumlah pemain game Indonesia terbanyak di Asia Tenggara, yang bermain game di telepon pintar, personal computer, dan laptop, serta konsul. Dengan prakiraan prevalensi 6,1% pemain game mengalami kecanduan, maka dapat diperkirakan bahwa saat ini terdapat 2,7 juta pemain game yang mungkin kecanduan. Kecanduan game juga memicu tindakan kriminal. Pernah dilaporkan ada kasus tujuh remaja yang mencuri uang, rokok, dan tabung gas di toko untuk membayar sewa alat game online dan dua remaja merampok penjual nasi goreng untuk mendapatkan uang yang dipakai main game online.

     Badan Kesehatan Dunia (World Health Organisation/WHO) memasukkan kecanduan game ke dalam daftar penyakit dalam laporan International Classification of Diseases edisi 11 (ICD-11). Dengan demikian, kecanduan game resmi masuk sebagai gangguan kesehatan jiwa (The Conversation, 4/7/2018).

Mengarahkan Permainan Yang Positif

     Permainan (game) adalah aktivitas rekreasi dengan tujuan bersenang-senang, mengisi waktu luang, atau berolah raga ringan. Permainan dapat dilakukan sendiri atau bersama-sama (kelompok). Permainan banyak macamnya, misalnya: permainan tradisional, seperti petak umpet, gobak sodor, dan dapat pula permainan modern yang umumnya termasuk ke dalam cabang-cabang olah raga, seperti lari, senam, tenis meja, menembak, sepeda, panahan, sepak bola, bulutangkis, dan bela diri. Permainan yang modern kadang juga melibatkan penggunaan peralatan yang canggih, seperti permainan (game) di computer, video, atau permainan secara on line di internet (game on line) (http://id.wikipedia.org).

     Sebenarnya masih banyak permainan yang berdampak positif bagi peserta didik. Islam sangat menganjurkan untuk membiasakan anak-anak dilatih berenang, berkuda, dan memanah. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang, dan memanah” (HR. Bukhari Muslim). Itu menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan agar anak-anak sebagai generasi penerus agar dibekali dengan fisik yang kuat, akal yang sehat, dan kepribadian yang unggul. Salah satu caranya adalah melatih dengan permainan yang positif di antaranya berkuda, berenang, dan memanah. Itulah panduan dari Yang Maha Sempurna, yang seharusnya diambil oleh pemegang kebijakan di negeri ini agar generasi penerus dibekali hal-hal yang positif, dan menutup rapat-rapat permainan yang justeru dapat merusak akal, fisik, dan kepribadian generasi penerus bangsa ini.

     Dengan demikian, sudah saatnya semua pihak yang berwenang dalam dunia pendidikan berpihak kepada generasi muda bangsa ini. Dengan jalan menutup semua celah penyebab timbulnya dampak negatif dari permainan game online, terutama untuk perkembangan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Bagaimana jadinya jika permainan game online ini dikembangkan, maka pastilah korban akan semakin banyak, kualitas SDM Indonesia akan semakin menurun. Sementara dalam visi pendidikan Indonesia telah digariskan bahwa sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Marilah semua pihak bersungguh-sungguh menyelamatkan generasi penerus bangsa ini dari ancaman bahaya game online. Wallahu a’lam.

*)Guru Kelas VI SDN Pulorejo II Tembelang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.