Anak sebagai Korban Kejahatan Media Digital

208
Anak sebagai Korban Kejahatan Media Digital
Anak sebagai Korban Kejahatan Media Digital

Baru-baru ini, warga Garut dibuat resah dengan adanya grup pertemanan di media sosial yang mendeskripsikan diri sebagai kaum penyuka sesama jenis, yang lebih meresahkannya lagi ternyata anggota grup mayoritas adalah pelajar SMP dan SMA yang jumlah anggotanya lebih dari 2.000 orang. Apalagi Garut selama ini dikenal sebagai kota agamis.(liputan 6.com, 9 Oktober 2018)

Begitulah salah satu kondisi remaja masa kini, bagaimana tidak?? Miras, narkoba, sex bebas, pornografi, pornoaksi serta penyimpangan serupa lainnya perlahan mulai menjamahi mereka. Berlindung dibalik jargon “ pencarian jati diri “ hal-hal yg tak sehat pada akhirnya membawa mereka berani untuk menerobosnya. Itulah karakter remaja zaman sekarang yang melakukan perbuatan tanpa berpikir dahulu apa dampak yang ditimbulkan dari perbuatannya tersebut. Di dunia maya pun, melejitnya perkembangan digital juga disalahgunakan oleh remaja labil ini.

Sebuah berita yang memilukan yang menyentak hati nurani kita dimana diungkapkan oleh komisi perlindungan anak indonesia (KPAI) dimana jumlah anak korban pornografi dan kejahatan online telah menembus angka 1.022 anak pada 2015 dengan perinciannya, 11% anak korban kekerasan seksual online, 15% objek CD porno, 20% prostitusi anak online, 21 % pornografi online, 24% anak memiliki materi pornografi dan 28% merupakan pornografi online (Republika.co.id, 20 April 2016).  Ditambah dengan fakta baru-baru ini di kabupaten garut, terbongkarnya sindikat gays siswa SMP&SMA yang terkoordinir melalui grup facebook. Semakin menambah daftar kekhawatiran atas pergaulan remaja masa kini.

Beginilah efek jangka panjang dari tidak dilibatkannya agama dalam berkehidupan. Generasi muda adalah sosok yang suka berkreasi, idealis dan memiliki keberanian serta menjadi inspirator dengan gagasan dan tuntutannya. Generasi muda adalah penentu perjalanan suatu bangsa dimasa berikutnya. Maju tidaknya suatu bangsa tergantung pada generasi mudanya. Bahkan generasi muda diakui perannya sebagai kekuatan yang mampu mendobrak kejumudan masyarakat.

Namun sayang, potensi remaja yang begitu besar tidak disalurkan pada hal-hal yang positif, kita bisa melihat “ remaja masa kini” sangat minim akan prestasi, mereka begitu lekat dengan penyimpang-penyimpangan seperti menjadi pelaku LGBT, pergaulan bebas, pengguna narkoba, tawuran, geng motor dan masih banyak lagi penyimpangan yang mayoritas pelakunya adalah remaja.

Rusaknya perilaku remaja saat ini, tidak terlepas dari gencarnya arus liberalisasi yang masuk ke negeri ini yang telah nyata memberikan dampak buruk pada kehidupan. Para kapitalis turut menyumbangkan pengaruhnya terhadap kerusakan remaja saat ini melalui berbagai media baik cetak maupun elektronik dengan memberikan tayangan-tayangan yang mengumbar syahwat dan kekerasan

Maka tidak heran generasi-generasi yang dilahirkan adalah generasi yang apatis, pragmatis, dan alergi terhadap aturan terutama aturan yang berasal dari islam. Ditambah dengan kondisi negeri tercinta yang masih memberdayakan konsep sekulerisme rasanya mustahil pergaulan bebas bisa teratasi.

Bahkan kemungkinan besar, kebobrokan ini akan terus diwariskan pada generasi mendatang. Dengan begitu sekulerisme tidaklah layak untuk dipertahankan, mengapa??

Karena sekulerisme adalah jembatan utama yang mengantarkan manusia pada kelancangan. Mereka bertindak seakan memiliki kuasa untuk mengolah dan mengeliminasi aturan dari sang pemilik kehidupan serta memproduksi aturan-aturan baru. Mereka juga bertindak seakan-akan hari esok bebas dari penghakiman.

Berbeda dengan sekulerisme, islam memandang bahwa semua pihak bertanggung jawab dalam pembentukan generasi muda, baik orang tua sebagai wadah pertama dan utama di rumah, lingkungan masyarakat tempat mereka tumbuh dan hidup bersama anggota masyarakat lainnya maupun negara yang bertanggung jawab melahirkan generasi islam sebagai bagian dari tugas negara melalui penerapan syariat islam dalam berbagai aspek kehidupan.

Dari sini, adalah suatu kebodohan jika manusia masih saja menolak islam sebagai landasan hidup (ideologi) mereka. Ibarat keledai yang terperosok ke lubang yang sama, adalah kebodohan pula jika manusia masih saja mau terkungkung dalam kubangan sistem yang sama (red: sekulerisme).

oleh: Dewi Nopiani ,Amd (Penulis adalah salah satu staf pengajar d SMKN 13 Garut)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.