Ana Muslim

50

Oleh: Gus Uwik

Menarik untuk menjadi evaluasi kita bersama. Ketika kita sudah aqil baligh kemudian mengenal Allah SWT dan Islam, apa yang selanjutnya kita lakukan? Bagaimana pemahaman dan sikap diri yang langsung kita lakukan? Apakah kita langsung bergiat diri mempelajari Islam, sekuat tenaga mengamalkan syariat Islam atau bahkan menjadi pembela agama Allah yang terpercaya? Ya. Apakah kita mengikrarkan dalam tutur kata dan sikap di depan khalayak ramai bahwa “Ana Muslim sebelum yang lain…”. Merubah semua sikap yang sebelumnya tidak sesuai dengan perintah Allah menjadi sikap yang sejalan dengan semua perintah Allah SWT. Hal di atas adalah hal yang menarik buat evaluasi diri kita, yang mungkin sudah menjali hidup ini lebih dari seperempat atau bahkan setengah abad. Sudahkah kita konsisten terhadap keimanan kita?

Apa yang di alami oleh sahabat Umar bin Al Khattab sewaktu baru masuk Islam menjadi pelajaran sangat berharga. Sebagaimana yang dijelaskan dalam buku The Great Leader of Umar bin Al Khathab (Kisah Kehidupan dan Kepemimpinan Khalifah Kedua), sikapnya langsung menunjukkan keislaman dan pembelaan pada Islam. Beliau memahami betul konsekwensi dari makna syahadat, satu antara kata dan perbuatan. Satu antara iman dan amal. Satu anatara pemahaman dengan perilaku. Dan menjadi pembela Islam terpercaya. Beliau dengan lugas dan tegas mengimplementasikan “Ana Muslim…” setelah bersyahadat di depan Nabi.

Umar masuk Islam dengan hati yang tulus. Ia berusaha mengokohkan agama Islam dengan segenap kekuatan yang dimilikinya. Ia pernah mengatakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam, “Ya Rasulullah, bukankah kita berada di pihak yang benar bila kita mati dan bila kita hidup?” Beliau menjawab, “Benar. Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggamanNya, sesungguhnya kalian berada di pihak yang benar bila kalian mati dan bila kalian hidup.” Umar berkata, “Lantas mengapa dakwah Islam kita lakukan secara sembunyi-sembunyi? Demi Dzat yang mengutus Anda dengan kebenaran, kami semua akan keluar dari rumah ini.”

Inilah sikap yang luar biasa dari Umar. Setelah bersyahadat dan meyakini kebenaran akan Islam, dia berkeinginan bahwa kebenaran agama Islam itu harus diketahui oleh orang banyak. Kebenaran harus disampaikan dan ditampakkan secara terbuka kepada khalayak ramai. Walau dengan resiko yang sangat besar.

Apa yang disampaikan oleh Umar dan di tambah oleh bimbingan wahyu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam melihat bahwa telah tiba saatnya untuk berdakwah secara terang-terangan. Dakwah Islam telah kuat dan dapat membela dirinya sendiri. Maka Beliau pun mengizinkan untuk berdakwah secara terang-terangan. Beliau keluar dari Darul Arqam bersama kaum muslimin dengan membentuk dua barisan. Satu barisan dipimpin oleh Umar Bin Al Khattab dan suatu barisan lagi dipimpin oleh Hamzah bin Abdul Muthalib. Tatkala orang-orang Quraisy melihat Umar dan Hamzah memimpin barisan kaum muslimin, mereka tertimpa kesedihan yang belum pernah mereka alami selama ini. Rasulullah saat itu memberi Umar gelar Al Faruq (pemisah antara yang hak dan yang batil). (HR. Ahmad)

Allah telah mengokohkan agama Islam dan kaum muslimin dengan masuk Islamnya Umar. Umar adalah orang yang sabar akan sadar akan harga diri. Ia tidak peduli apa resiko yang akan terjadi dibelakangnya. Allah telah melindungi para sahabat nabi dengan Umar dan dengan Hamzah.

Lihatlah apa yang dilakukan oleh Umar. Umar bin al-Khattab menantang orang-orang musyrik Quraisy. Ia melawan atau memerangi mereka hingga akhirnya ia dan kaum Muslimin dapat menunaikan sholat di Ka’bah. Umar tetap berusaha dengan sungguh-sungguh dengan segenap kemampuannya untuk melawan dan memerangi musuh musuh Islam. Tentang dirinya, ia bercerita, “Aku bertekad ingin dilihat mereka sebagai orang Islam. Aku pergi menemui pamanku, Abu Jahal.” Ia termasuk orang terpandang di mata mereka. Ku ketuk pintu rumahnya. “Siapa yang mengetuk pintu?” tanya Abu Jahal. Kujawab, “Umar bin al-khattab.” Ia pun keluar menemuiku. Kutanyakan pada Abu Jahal, “Apakah Anda sudah tahu kalau aku telah murtad (telah masuk Islam)?” Abu Jahal balik bertanya, “Apakah Anda serius telah murtad?” Kujawab, “Ya, aku serius.” “Jangan lakukan itu,” pinta Abu Jahal. Lalu ia masuk ke dalam rumahnya. Ia menutup pintu dan tidak menghiraukan ku.

Setelah itu, aku pergi menemui salah seorang tokoh terpandang Quraisy. Sesampai disana, ku ketuk pintu rumahnya. “Siapa di luar?” tanyanya. Kujawab, “Umar bin al-Khattab.” Ia keluar menemuiku. Kutanyakan kepadanya, “Apakah Anda sudah tahu kalau aku telah murtad?” Ia balik bertanya, “Apakah Anda serius setelah murtad?” “Ya, saya serius,” jawabku. “Jangan lakukan itu!” pintanya. Lalu ia masuk ke dalam rumah dan menutup pintu.

Dirawikan dari Abdullah bin Umar, ia bercerita tatkala Umar masuk Islam orang-orang Quraisy belum mengetahui keIslamannya. Umar bertanya, “Siapa di antara penduduk Makkah yang dapat menyebarluaskan informasi tentang keislamanku?” Dikatakan pada Umar, “Jamil bin Ma’mar Al-Jamhi.” Umar keluar dan aku mengikuti di belakangnya. Aku perhatikan apa saja yang dilakukan Umar. Saat itu, aku masih anak-anak tapi aku sudah dapat memahami apa yang kulihat dan kudengar. Umar menemui Jamil dan menyampaikan padanya, “Wahai Jamil, aku telah masuk Islam.” Demi Allah tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya hingga yang menarik sorbannya. Umar mengikuti Jamil dan aku pun mengikuti Ayahku, Umar. Setiba di Masjid, Jamil berdiri tepat di pintu masjid dan berteriak dengan suara lantang, “Wahai orang-orang Quraisy – saat itu orang-orang Quraisy sedang berada di sekitar Ka’bah-! Ketahuilah, bahwasanya Umar bin al-Khattab telah murtad.” Umar berujar, “Jamil telah berdusta. Yang benar, aku telah masuk Islam. Aku telah bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu adalah hamba-Nya dan utusan-Nya.”

Setelah itu orang-orang Quraisy menyerang Umar Bin Khattab. Umar lalu menangkap ‘Utbah bin Rubaiah. Umar memasukkan ke dua jari tangannya tepat di mata ‘Uthbah. ‘Uthbah berteriak. Orang-orang Quraisy pun menjauh Umar. Umar lalu berdiri dan tidak ada seorangpun yang berani mendekatinya hingga akhirnya orang-orang Quraisy bubar. Umar mengikuti majelis-majelis mereka dan menampakkan keislamannya di dalam majelis-majelis tersebut.

Umar terus menyerang mereka hingga mentari berada tepat di atas kepala mereka. Umar merasa lelah, lalu duduk dan beristirahat. Tidak lama kemudian orang-orang Quraisy menghampirinya. Kepada mereka, Umar mengatakan, “Lakukanlah apa yang hendak kalian lakukan. Demi Allah, sekiranya kami berjumlah 300 orang laki-laki, niscaya kalian akan membiarkannya untuk kalian.” Tidak lama kemudian, datanglah orang seorang laki-laki yang mengenakan Sutra dan gamis berbordir. “Apa yang sedang kalian lakukan?” tanya laki-laki itu kepada mereka. Mereka menjawab, “Umar bin al-Khattab telah murtad.” Laki-laki itu mengatakan, “Biarkanlah dia! Ia telah memilih agama untuk dirinya sendiri. Apakah kalian mengira bahwa Bani Adi akan menyerahkan begitu saja anggota suku mereka pada kalian?”

Setelah di Madinah, aku bertanya kepada Umar, “Wahai ayahku, siapa nama orang yang dulu pernah mencegah ayah dari amukan orang-orang Quraisy?” Umar menjawab, “Wahai anakku, Ia adalah Al-‘Ash bin Wail As-Sahmi.” (HR. Imam Ahmad).

Demikianlah sikap luar biasa Umar. Tidak takut sama sekali mengenalkan identitasnya sebagai seorang Muslim, walau taruhannya nyawa sekalipun. Sangat tepat dalam kondisi sekarang. Kita sebagai seorang muslim, apalagi pengemban dakwah harus berani menampilkan identitas kita bahwa kita adalah para pemeluk Islam yang taat dan pembela agamanya yang terpercaya. Walau ancaman kriminalisasi dan penjara menanti.

Dalam fragmen di atas juga menjelaskan bahwa suatu saat nanti akan ada ahlul quwwah yang secara terang-tearangan membela agama Allah dengan semua potensi dan jabatan yang dimilikinya. Dia tidak perduli lagi dengan kekayaan, jabatan bahkan nilai sosial yang diterimanya saat itu. Baginya Islam jauh lebih mulia dan berharga jika dibandingkan dengan itu semua. Dan bisa jadi, Andalah ahlul quwwah itu. Maka buktikanlah pembelaan Anda. Ana muslim…! Wallahua’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.