Amanah Jabatan dan Kekuasaan

24

Oleh : Suci K. Putri Aktivis Dakwah

Sebagaimana diketahui, pelantikan Presiden dan Wakil Presiden baru, sekaligus pembentukan kabinet baru ,yang di jadwalkan pada hari Ahad , 20 Oktober 2019,yang akan di gelar di gedung DPR, MPR, Presiden dan Wakil Presiden terpilih hasil pilpres beberapa waktu lalu, meski sempat dibayang-bayangi tudingan kecurangan brutal,  massif  dan terstruktur, tentu amat berharap pelantikan keduanya tidak menghadapi hambatan dan gangguan.

Karena itu masing-masing parpol dan elitnya saling bermanuver yang awalnya kontra rezim, sekarang berusaha melakukan rekonsiliasi. Tentu demi jabatan dan kekuasaan.  Masing-masing melakukan lobi-lobi. Tak peduli harus menjilat sana sini. Bahkan masing-masing melakukan berbagai intrik tak peduli saling sikut demi sebuah kursi.

Begitulah realitas politik demokrasi sekular. Banyak kalangan telah diperbudak nafsu jabatan dan kekuasaan. Untuk itu mereka sering tak peduli halal/haram, baik/buruk bahkan benar/salah. Tak peduli untuk itu mereka harus mengorbankan idealisme. Bahkan tak peduli untuk itu mereka harus mengorbankan rakyat kebanyakan. Yang penting jabatan dan kekuasaan ada dalam genggaman.

Beratnya amanah jabatan dan kekuasaan

Kepemimpinan, jabatan dan kekuasaan adalah amanah. Siapa saja yang memegang amanah kepemimpinan ini pasti akan dimintai pertanggungjawaban oleh allah swt di akhirat kelak.  Dengan kata lain, jabatan sesungguhnya adalah beban, yang bilamana tidak di tunaikan dengan sebaik-baiknya,akan membawa pada kehinaan dan penyesalan ( hizyun wa nadamah ). Generasi saat ini rata-rata amat bernafsu atas kekuasaan dan jabatan. Mereka seolah tak peduli jabatan dan kekuasaan itu akan berubah menjadi penyesalan & kerugian bagi mereka pada hari kiamat kelak.

Bercermin pada kepemimpinan islam

Sepeninggal Rasulullah dan menggantikan Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar Bin Khaththab Ra. Yang memimpin umat islam dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama. Namun, dalam waktu yang singkat itu, beliau berhasil mencapai kemajuan yang luar biasa. Kemakmuran melingkupi senegap negeri. Keamanan, ketentraman dan kedamaian dirasakan oleh seluruh rakyat. Dalam masa kepemimpinan umar pula, persia salah satu adikuasa pada waktu itu berhasil ditaklukkan sekaligus menandai kemunculan islam sebagai adikuasa baru berdampingan dengan romawi.

Umar pun benar-benar menjalankan kepemimpinannya dengan sangat baik. Ia mengerahkan segenap kemampuan, waktu, tenaga, dan pikirannya untuk melaksanakan amanah itu.ia tidak menjadikan jabatan khalifah untuk mengeruk keuntungan material.

Islam tidaklah melarang siapa pun yang ingin berkuasa. Islam pun memandang wajar terjadinya pergolakan yang menyertai proses-proses politik ke arah itu. Yang menjadi masalahnya itu, bagaimana cara kekuasaan itu di dapat, serta dalam rangka apa kekuasaan itu di raih?

Merindukan kepemimpinan islam

Kita sangat mengenal beberapa pemimpin dalam islam,di antarannya yaitu khulafaur rasyidin  yg terkenal dalam kearifan, keberanian, dan ketegasannya dalam membela islam dan kaum muslim. Mereka adalah para negarawan ulung yang sangat di cintai oleh rakyatnya dan di takuti oleh lawan-lawannya. Mereka juga termasyur sebagai pemimpin yang memiliki budi pekerti yang agung dan  luhur.

Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq. Beliau adalah sosok penguasa yang terkenal sabar dan lembut. Beliau juga terkenal sebagai pemimpin yang berani dan tegas. Beliau pun segera memerintahkan kepada kaum muslim lainnya,untuk memerangi mereka yang menolak kewajiban zakat.

Khalifah Umar Bin Khathab. Beliau pun terkenal sebagai penguasa yang tegas dan sangat disiplin. Beliau tidak segan-segan merampas harta para pejabatnya yang di tengarai berasal dari jalan yang tidak benar. Seperti yang sudah kita ketahui, bahwa islam sangat mendorong agar para pemimpin, penguasa maupun pejabat negara selalu bersikap adil. Tetapi sangat di sayangkan, pemimpin adil tidak mungkin lahir dari rahim sistem demokrasi sekuler yang jauh dari tuntunan islam. Sistem zalim ini hanya bisa menghasilkan para pemimpin zalim, tidak amanah dan jauh dari sifat adil. Pemimpin yang adil hanya mungkin lahir dari rahim sistem yang juga adil. Itulah sistem islam yang diterapkan dalam institusi pemerintahan islam ( Khilafah ).

Wallahu’alam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.