Alquran, Implementasi Isi atau Kompetisi?

71

Oleh: Sri Maulia Ningsih, S. Pd (Muslimah Media Konawe)

Ikatan Dai Aceh mengundang dua kandidat calon Presiden RI untuk uji baca Al Qur’an. Salah satu alasannya karena dua Capres sama-sama beragama Islam dan penting bagi umat Islam untuk tahu kualitas calon presidennya.

Sebagaimana dikatakan oleh Ridlwan Habib peneliti radikalisme dan gerakan Islam di Jakarta Tes baca Al Qur’an bagi seorang calon pemimpin yang beragama Islam sangat wajar dan sangat demokratis. Justru publik makin tahu kualitas calonnya.

Ridlwan menjelaskan, jika seorang beragama Non Muslim lalu dipaksa tes membaca Alquran barulah bisa disebut melanggar Pancasila dan asas demokrasi. Namun baik Joko Widodo dan Prabowo Subianto sama-sama muslim. Justru, tambahnya, kemampuan membaca Alquran menambah trust atau rasa percaya dari masing-masing voter atau kelompok pemilih. (Tribunnews.com, 30/12/2018)

Namun di lain pihak, Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menilai tes baca tulis Alquran tak perlu dilakukan oleh kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden. Menurut BPN, yang lebih penting ialah pengamalan nilai kitab suci dalam kehidupan berbangsa dan bernegara (Okezone, 30/12/2018).

Tidak jauh berbeda, Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf, Hajriyanto Thohari angkat bicara soal usulan tes mengaji dan tulis Alquran bagi calon presiden dan wakil presiden. Menurutnya syarat dari Komisi Pemilihan Umum sudah cukup, tak perlu ditambah lagi (Merdeka.com, 30/12/2018).

Alquran adalah Kalamullah atau perkataan Allah sebagai pencipta yang maha pengatur. Setiap Muslim wajib untuk terikat dengan isi dari Alquran tersebut. Sebagai konsekuensi dari keimanan kepada Allah Swt.

Ide tes baca tulis Alquran untuk capres dan cawapres dan respon terhadapnya merupakan salah satu bukti bahwa dalam sistem demokrasi, Alquran hanya menjadi alat permainan politik untuk memerangi persaingan disatu sisi, namun di sisi lain sesungguhnya keberadaannya dianggap tidak begitu berpengaruh.

Padahal, Alquran adalah wahyu Allah sekaligus petunjuk hidup yang wajib atas seluruh kaum Muslimin untuk mengamalkan isinya dengan kaffah. Memeluk dan mengamalkan Islam secara kaffah adalah perintah Allah swt. yang harus dilaksanakan oleh setiap Mukmin. Siapapun, di manapun, apapun profesinya, di mana pun tempat tinggalnya, di zaman kapan pun dia hidup. Baik dalam skala besar ataupun kecil, baik pribadi maupun masyarakat.

Sebagaimana Allah berfirman dalam Alquran surah Al-Baqarah ayat: 85 yang artinya, “Apakah kalian ini mau beriman kepada sebagian Al Kitab (Taurat) sementara kalian tidak mau beriman, tidak mau mengamalkan dengan syariat yang lainnya, tidaklah balasan bagi orang-orang yang berbuat seperti ini diantara kalian, kecuali kehinaan di dunia. Dan pada Hari Kiamat nanti mereka akan dikembalikan ke sekeras-keras adzab. Tidaklah Allah sekali-kali lalai dari apa yang kalian lakukan.”

Ayat tersebut tentu sebagai peringatan bahwa kita dilarang meniru perbuatan yang dilakukan oleh kaum yang tidak beriman kepada-Nya secara menyeluruh. Mereka mau menerima syariat Allah swt. yang diturunkan dalam kitab Taurat jika syariat tersebut tidak bertentangan dengan hawa nafsu mereka. Namun, jika syariat tersebut menurut pandangan mereka saat diterapkan dapat menghalangi kepentingan duniawi, hawa nafsu atau tidak bisa diterima oleh logika mereka yang sempit, maka mereka tidak mau beriman dan mengamalkan syariat Allah Swt tersebut. Barangsiapa yang berbuat seperti itu, maka sungguh balasannya adalah kehinaan didunia dan azab di akhirat nanti lebih keras lagi. Sebab, Allah Swt tidak akan lalai terhadap apa yang kita lakukan.

Begitu pula tidak selayaknya wahyu Allah di tempatkan pada posisi yang tidak selayaknya. Apalagi negeri ini adalah penduduk dengan mayoritas Muslim. Tentu pemimpinnya tidak hanya dituntut untuk baca tulis Alquran semata, tetapi harus siap untuk menerapkan isinya, tanpa mempertimbangkan lagi, apakah ini sesuai dengan kepentingan tertentu ataukah tidak? Apakah ini bisa meraih simpati pemilih ataukah tidak? Sebab Alquran adalah wahyu Allah sekaligus petunjuk hidup yang wajib atas seluruh Muslim untuk mengamalkan isinya secara kaffah (keseluruhan).

Dengan demikian, saatnya umat mencampakkan sistem sekuler yakni pemisahan agama dari urusan kehidupan dunia yang menempatkan hukum Allah secara tidak layak dan mengganti dengan aturan yang maha baik, yakni bersumber dari-Nya yang membawa rahmatan lil alamin. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.