Aksi Bela Tauhid Malang: Kami Pulang, Tanpa Sesal

111

Teriring sholawat, gema takbir dan tahmid sesungguhnya adalah peristiwa yang mendobrak kalbu, haru dan tangis yang tak ter elakkan. Betapa tidak, kami menyaksikan lautan umat berkumpul di Alun-alun Kota Malang (28/10) untuk satu tujuan, menolak keras atas pembakaran bendera panji Rasulullah oleh oknum salah satu sayap ormas.  Ghirah luar biasa memompa adrenalin para jamaah, tak henti hentinya gema takbir dan sholawat bergantian saling bersahut sahutan.

Meskipun terdengar upaya untuk membubarkan, mereka tak bergeming, sholawat ashgyl yang terus berkumandang. Hanya bertumpu pada Sang Maha Kuat, Allah Swt, pembela panji Rasul di sana bertahan dan tak membalas dengan liar. Aksi yang di awal diharapkan lancar, seketika sempat ricuh oleh segelintir oknum. Tahukah anda? Besar keyakinan,  di saku laskar panji tak akan ditemui sekeping batu apalagi palu, tapi lihatlah perlakuan mereka, seolah menghadapi musuh bersenjata.

Syukurlah, laskar panji tak mampu digoda dengan intrik murahan, para pejuang kalimat tauhid tetap mengibarkan ratusan bahkan ribuan panji Rasul. Suasana menjadi sangat heroik dan mengharukan. Maasya Allah, gema kalimat tayyibah mengguncang alun-alun di pusat kota ini.  Munajatnya menggedor pintu pintu langit, memohon agar Sang Penguasa alam segera menolong agama-Nya yang selalu jadi ajang pelecehan di tangan rezim anti Islam.

Sekat nasionalisme dan politik klasik, disetting licik sarat intrik sedang dimainkan di sini. Bayangkan saja, aparat yang sedianya bertugas menjaga, justru hadir menjadi lawan masyarakatnya.  Padahal ini adalah aksi damai, para laskar panji Rasulullah itu rela berduyun duyun datang membawa sanak keluarga, anak anak mungil pun turut serta menyaksikan kehebatan persatuan umat Muslim disana.  Ada gemuruh keimanan yang melecut lecut di ubun ubun para laskar panji Rasulullah.  Lantas, mengapa justru water cannon persiapan mereka? Tampaknya ketakutanlah  yang merias wajah-wajah pembenci persatuan umat.  Karena ketika umat semakin sadar pentingnya Islam dan semakin rindu untuk bersatu, sungguh sekat nasionalisme akan robek, tak bersisa. Berganti dengan ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) yang mampu menaungi segala bangsa, apapun agamanya.

Jadi ingatlah, perjuangan menegakkan Islam agar menjadi  rahmatan lil alamin, dijegal dengan cara apa saja, mustahil membuat laskar pejuang mundur ke pinggir.  Begitu nyali Muslim yang hanif (lurus), mereka orang orang yang tak lapar dunia, karena tujuan pembelaannya adalah hujjah ketika berhadapan dengan Rabbnya. Maka untuk kalian yang masih pongah dan berupaya mencegah dakwah, apalagi menistakan agama dan simbol Islam tunggulah makar-Nya yang dahsyat.

“Dan sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar padahal di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu. Dan sesungguhnya makar mereka itu (amat besar) sehingga gunung-gunung dapat lenyap karenanya.” (TQS. Ibrahim : 14)

“Dan merekapun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedang mereka tidak menyadari.” (TQS. An Naml: 27).

 Sungguh kami pulang dengan sungging kemenangan, kiranya sampai dakwah ini ke telinga penguasa, tanpa sesal laskar panji melangkah, semakin tak goyah walau rezim meruntuhkan jalan dakwah, karena para laskar panji yakin, Allah sebaik baiknya penjaga sesiapa yang lurus memperjuangkan dan melanjutkan aturan syariatNya.[]

Oleh : Aishaa Rahma

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.