Aksi Bela Tauhid  : Ghiroh Jihad Itu Belum Luntur

58
Aksi Bela Tauhid

Pasca pembakaran bendera yang dilakukan oleh oknum Banser, pada saat pelaksanaan Hari Santri Nasional yang ke 3, (22/10) lalu, rupanya berbuntut panjang. Sikap spontanitas beberapa anggota banser tersebut mengundang kecaman dari berbagai ormas Islam lainnya. Hingga kini, gelombang Aksi Bela Tauhid, di berbagai kota nampaknya tak juga surut, puncaknya pada Hari  Jumat (2/11), berdasarkan Pantauan detikcom massa bergerak usai salat Jumat. Massa mayoritas bergerak melalui pintu masuk Masjid Istiqlal dekat Gereja Katedral, Jakpus, Jumat (2/11/2018).

Puluhan bahkan ratusan ribu atribut bertuliskan kalimat tauhid menyelemuti Kota Jakarta. Massa mengibarkan bendera-bendera yang dibawa.  Mereka berangkat dengan jiwa jiwa yang terpantik semangat.  Bersatu membela agama yang acapkali dinista, terlebih sejak Banser  membakar bendera berlafadz “Laa ilaa ha ilallah” dengan dalih praduga yang disinyalir merupakan bendera milik salah Satu ormas  (HTI)  yang pada faktanya bukanlah merupakan bendera ormas tersebut, dan dibenarkan oleh MUI.

Dilansir dari TEMPO.CO, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan bendera yang dibakar dalam insiden bertuliskan lafadz Tauhid bukan merupakan bendera HTI atau Hizbut Tahrir Indonesia.  “Memang itu tidak ada HTI-nya, jadi itu kalimat tauhid. Kami melihat yang dibakar kalimat tauhid karena tidak ada simbol HTI,” kata Wakil Ketua Umum MUI Yunahar Ilyas di gedung MUI Pusat, Jakarta Pusat, pada Selasa, 23 Oktober 2018.

Atas tindakan ceroboh  Banser, kini malah menjadi blunder, masyarakat yang tadinya awam justru ikut mencari tahu tentang kebenaran simbol Islam tersebut. Lagi lagi HTI menjadi sasaran propaganda politik, padahal mantan jubir HTI telah menyatakan bahwa bendera tersebut bukan milik HTI.   Menurut Ismail, bendera yang ada di dalam video pembakaran bendera oleh Banser NU adalah Ar-Rayah. “Jadi itu bukan bendera. Ar-Rayah cirinya tulisan putih dan latar belakang bendera hitam. Ada lagi Al-Liwa tulisan hitam benderanya putih,” ucap Ismail kepada Tirto.id hari Selasa (23/10/2018).

Kesadaran masyarakat dengan melek media kini tidak dapat ditangguhkan, HTI hanyalah ormas yang mengenalkan kembali bendera kaum muslimin, Al Liwa Dan Ar royah yang justru harusnya menjadi kebanggaan dan pemersatu Umat Islam.  Ujungnya, aksi pembakaran bendera oleh oknum Banser tersebut telah  menuai balasan dengan aksi pawai akbar lintas ormas di berbagai penjuru kota di Indonesia.  Nampak jelas bahwa ghiroh jihad itu belum luntur dari dada kaum muslimin.

Geliat Umat Muslim yang marah atas pembakaran bendera tersebut tentu saja tak berjalan mulus bak tol suramadu. Ada harga yang perlu dibayar dengan airmata para relawan yang turut andil dalam aksi tersebut. Begitu terpampang nyata, bahwa aksi solidaritas Umat Islam Tak luput dari  jegalan jegalan penguasa. Mulai dari penolakan izin, atau bahkan meremehkan suara Umat Muslim, seperti yang disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto, beliau menilai tidak perlu ada aksi bela tauhid jilid II pada Jumat 2 November 2018 ini. Alasannya, saat ini Indonesia masih dirundung sejumlah bencana. (VIVA.id).

Kerusuhan-kerusuhan juga timbul di beberapa kota, namun sayangnya aparat melakukan pembiaran atas keonaran yang ‘disengaja’ terjadi di tengah tengah aksi massa.  Pelarangan berpola ini timbul lantaran pihak aparat enggan memberikan pengamanan dengan alasan kekhawatiran suasana tidak kondusif, Ada kejanggalan disini, bagaimana mungkin aparat tau kondisi bakal tidal kondusif?  Sementara aksi saja belum dimulai. Sebagai penegak hukum sudah pasti mampu memperkirakan massa seperti apa yang hadir dalam aksi damai? Jika dengan mata tertutup saja tentu mudah ditebak, masanya seluruh kaum muslimin! Yang sudah pasti tidak hanya tua,muda,wanita,anak anak, namun siapa saja yang di dadanya tertancap keimanan Islam.

Pertanyaannya, apakah membela agama dan memperjuangkan syariah adalah sebuah kesalahan? Dimana mitos kebebasan berpendapat jika aparat tidak berlaku sebagai payung pelindung masyarakat?  Nampak jelas, apa saja bentuk aspirasi dari rakyat yang melawan atau mengusik kepentingan domain penguasa, maka saat ini tidak berlaku lagi Negara hokum.  Melainkan sebuah Negara berdasarkan kekuasaan. yang sangat  mudah ditunggangi oleh  berbagai kepentingan, dan hal tersebut adalah lonceng kematian bagi rakyat yang sejatinya sudah kehilanganan pelindung hukum.

Iman dan ukhuwah : kekuatan yang ditakuti

Sungguh Buya Hamka pernah berkata “ Jika diam saat agamamu dihina, gantilah bajumu dengan kain kafan”. Kalimat ini benarlah adanya.  Seorang yang beriman, hatinya hidup.  Dia akan punya rasa cemburu  (ghiroh) yang merupakan konsekunsi dari imannya kepada Islam.  Dan sebaliknya, jika dia anteng melihat penodaan agama berdalih kebencian pada salah satu ormas, dikhawatirkan hatinya telah mati. Imannya telah sirna, terbawa arus propaganda  dan fitnah yang didukung kekuasaan yang ada. Ya, bagaimana bisa dikatakan beriman ketika mereka membakar sebuah bendera yang di atasnya tertulis lafaz tauhid ?

Iman memang harus dibangun dengan kesadaran dan pemahaman yang kuat.  Tak bisa hanya didoktrin.  Sehingga siapa pun dia tak mudah disetir atau diarahkan untuk mebenci sebuah bendera yang –kebetulan- telah begitu sering disosialisasikan oleh suatu ormas sebagai Panji Rasul. Ar Royah (hitam) atau al Liwa’(putih).

Tak cukup masalah itu, dengan iman pula harusnya ukhuwah (Islamiyah) harus diutamakan. Biasakan bertabayyun dan mau duduk berdiskusi, jika ada perbedaan pendapat di tengah umat.  Ya tak beradab, jika main bully dan persekusi pihak yang berseberangan dengannya. Apalagi sampai main bakar dan ancaman tembak di tempat.

Tapi kejadian ini justru membuat umat Islam  semakin cerdas menyikapi fakta yang ada. Tak mudah terhasut oleh propaganda jahat yang dihembuskan oleh para pembenci dakwah syariah kaffah. Mereka bisa membedakan mana yang benar-benar ikhlas berjuang untuk umat dan mana yang menjerumuskan.  Lihat saja seruan ABT 211 misalnya, yang dihadiri ribuan peserta.  Seolah ingin menunjukkan inilah kekuatan kami. Jika kami bersatu di bawah panji yang mulia ini, siapa yang bisa kalahkan? Maashaa Allah.

Perasaan bersatu karena iman ini harus terus dipupuk dan ditingkatkan, dengan adanya proses penyadaran dan pembinaan umat yang konsisten. Sesuai dengan metode dakwah Rasul, dengan membangun opini umum yang benar.  Hal ini menjawab seruan Allah : “ Hendaklah ada di antara kamu segolongan umat, yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung. “ (TQS. Ali Imron : 104)

Kini,  dakwah pemikiran mulai menampakkan hasilnya. Perlahan tapi pasti, pintu kebangkitan umat mulai terlihat.  Ini adalah awal kesadaran masyarakat untuk mau berhukum kepada Islam Kaffah.  Melanjutkan kembali kehidupan Islam yang pernah menjadi peradaban gemilang selama berabad-abad lamanya.  Allah SWT berfirman:  “Kamu adalah umat yang terbaik  (khairu ummah) yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (TQS. Ali Imron: 110).[]

Oleh: Aishaa Rahma (Pegiat Sekolah Bunda Sholiha, Malang)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.