Air Mata Bumi yang Tertahan

32

Oleh: Wafi Mu’tashimah, siswi SMAIT Al-Amri


Banjir sudah menjadi hal yang tak tabu lagi dikalangan masyarakat Indonesia. Setiap tahun, saat musim hujan tiba, banjir selalu melanda kota-kota besar, terutama Jakarta dan sekitarnya.

Yang terakhir, banjir setinggi 30-150 cm melanda 11 desa di 6 kecamatan didaerah Karawang, Jawa Barat. Sedangkan di Bandung, Jawa Barat, banjir menyebabkan 150 rumah rusak. (Kompas.com)

Saat kita teliti, banjir yang sering terjadi saat ini dapat disebabkan oleh 2 hal, diantaranya:

  • kerusakan yang di perbuat oleh tangan manusia.

Saat kita pergi ke Jakarta, kita dapat melihat bagaimana keadaan masyarakat disana. Mulai dari gedung pencakar langit hingga rumah-rumah kumuh dibantaran sungai. Tak lupa, sampah yang menumpuk tak pernah habis. Inilah keadaan sebenarnya kota metropolitan dinegeri ini. Maka, tak heran jika diJakarta dan sekitarnya sering kali terjadi banjir.

Tidak hanya sampai disitu, banjir diJakarta dapat disebabkan oleh kurangnya daerah resapan air dikarenakan pembangunan yang tidak mengindahkan dampak lingkungan sama sekali juga kurangnya lahan hijau dan kanal-kanal hingga pendangkalan sungai. Hal yang ini seperti yang disampaikan oleh Wakil Ketua Komisi X DPR RI yang menyebutkan bahwa banjir yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia akibat penggundulan hutan, penyempitan dan pendangkalan sungai, hingga pembangunan yang jor-joran. Dan ini merupakan kesalahan kolektif bersama. (Kompas.com)

  • Peringatan dari Allah SWT. akibat dosa manusia.

Fenomena banjir tidak hanya karena pwmbangunan yang jor-joran, penyempitan serta pendangkalan sungai, dsb. Tapi, banjir dan bencana-bencana lain yang saat ini melanda Indonesia, bisa jadi merupakan peringatan dari Allah untuk kesekian kalinya kepada masyarakat dinegeri ini atas banyaknya dosa yang telah mereka lakukan. Hingga bumi pun tak mau menerima air dari langit. Hingga bumi memalingkan wajahnya dari manusia-manusia penghuninya, lantaran tak sanggup menahan air matanya melihat manusia saat ini banyak yang mengabaikan hukum Allah.

Masih ingatkah kalian saat Bangsa Sodom dilaknat oleh Allah dengan dihancurkan negeri beserta diri dan harta mereka karena perbuatan LGBT yang merajalela? Lalu bagaimana kaum Nabi Nuh dengan banjir bandang yang begitu besar, sampai-sampai hewan pun harus ikut kapal nabi untuk menyelamatkan jenisny. Begitu juga dengan Fir’aun dan kaumnya yang ditenggelamkan oleh Allah karena pembangkangan mereka yang luar biasa.

Hal diatas adalah contoh-contoh kaum yang dilaknat oleh Allah karena pembangkangan terhadap syari’at-Nya. Padahal, Allah telah mengutus seorang nabi untuk memberi peringatan. Untuk mengingatkan, bahwa yang mereka lakukan adalah salah. Tapi, mereka tetap melakukan banyak sekali kebejatan-kebejatan. Maka tidak salah jika Allah SWT. marah dan membinasakan mereka tanpa ada rasa ampun lagi.

Sedangkan, kita lihat saat ini diIndonesia berbagai kerusakan telah terjadi akaibat ulah tangan manusia. Mulai dari LGBT, zina, hingga kedzoliman yang merajalela. Mungkin banyak yang tidak sadar, karena fenomena-fenomena ini ibarat fenomena gunung es. Yang tampak hanya sedikit, tapi yang tak tampaklah yang lebih banyak. Maka Allah memberikan peringatan kepada kita untuk meninggalkan dan memperbaiki kerusakan-kerusakan yang ada.

Allah tidak langsung membinasakan kita, karena Ia masih memberikan kesempatan untuk bertaubat. Semua bencana ini adalah karena kemaksiatan manusia. Sebagai peringatan agar manusia kembali kejalan yang telah Allah kabarkan dalam Al-qur’an surat Ar-Rum ayat 41, yang berbunyi:
“Telah tampak kerusakan didarat dan dilautan akibat perbuatan (kemaksiatan) manusia, supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan (kemaksiat) mereka itu, agar mereka kembali (ke jalan-Nya).

Maka, kewajiban kita saat ini adalah kembali ke jalan-Nya, melakukan tobat bersama. Mulai dari ranah individu, masyarakat, hingga negara. Karena percuma saat diri sendiri telah bertaqwa, tapi orang disekitar belum bertaqwa. Karena individu tergantung pada masyarakat. Dan adalah sesuatu yang sia-sia jika hanya masyarakat yang telah bertaqwa, karena tidak akan terealisasikan seluruh syariat islam tanpa adanya Daulah Islam.

Maka, begitu juga kewajiban para pengemban dakwah yang telah mengetahui akan hal ini untuk berdakwah mengajak para individu muslim, masyarakat, dan negara untuk kembali ke penerapan syari’ah islam secara kaffah. Serta menyambut kembalinya kembangkitan islam seperti yang telah dijanjikan Allah melalui sabda nabi-Nya. Karena kita harus ingat ‘inna wa’dAllahi haqqa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.