Ahli Bidang Intelijen: Perlakuan Pemerintah Terhadap Pengusaha Cina Sangat Berlebihan

147
Letjen (Purn) Syarwan Hamid

Mediasiar.com – Syarwan Hamid, ahli bidang intelijen terdakwa ujaran kebencian Asma Dewi, menilai perlakukan pemerintah terhadap pengusaha Cina sangat berlebihan.

“Saya berpendapat bahwa selama masa pemerintahan ini, perlakuan yang diberikan kepada warga Tionghoa (Cina), terutama pengusahanya, sangat berlebihan. Segala urusan sangat dipermudah. Lihatlah hampir semua aset dan lahan besar dimiliki oleh mereka. Ini telanjang di depan mata, tak usah saya rinci lagi (di Riau hampir semua perkebunan besar milik mereka). Konon katanya ada yang memiliki total 5 juta hektar,” tulisannya dalam rilis yang menjadi viral di media sosial sehari setelah sidang, Rabu (17/1).

Di samping itu, tulis mantan Menteri Dalam Negeri Era BJ Habibie tersebut, siapa yang paling besar melarikan uang Indonesia (BLBI, Edy Tanzil, dll)? Terkait dengan itu semua, plus perkiraan logis masa depan bangsa (seperti Tibet, Zambia, Kamboja dan yang sudah jadi benar Singapura) yang berpotensi mendera negeri tercinta ini, tak layakkah warga Indonesia mencemaskannya?

“Amboi, ekspresi kecemasan itu yang diperlihatkan oleh seorang Asma Dewi,  karena pemerintah yang terkesan ‘sayang sekali kepada Cina’. Dia dituduh dan langsung ditahan karena ‘menyebarkan kebencian’. Luar biasa Pasal Karet Penyebar kebencian yang melebihi UU Anti Subversi 1963, telah menjadi pisau yang melibas aktivis yang kritis,” bebernya.

Ekspresi kecemasan yang dituduh sebagai ujaran kebencian tersebut, menurut Syarwan di antaranya adalah postingan Asma Dewi yang berbunyi sebagai berikut: Cina akan hancurkan Indonesia lewat tenaga kerjanya… bahwa di Malaysia diajarkan bahasa Jawa Kuno, sedang di Indonesia dipilih bahasa Cina… tentang adanya vaksin palsu dari Cina, tapi pemerintah malah mendirikan pabrik vaksin dari Cina…[] Joko Prasetyo

Sumber: Mediaumat.news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.