Aceh Menolak Keras Pengaturan Volume Adzan

138

“Jika masih ada yang terganggu suara adzan, berarti orang tersebut harus keluar dari daerah Aceh Besar.” (viva.co.id)

 Masih hangat di perbincangkan, terkait pengaturan volume adzan. Pernyataan di atas adalah kutipan dari seorang Wakil Bupati Aceh Besar Tgk Husaini A Wahab, saat merespon surat edaran dari Kemenag yang berisikan tentang Pelaksanaan Intruksi Dirjen Bimas Islam Nomor : KEP/D/101/1978 tentang Tuntunan Penggunaan Pengeras Suara, di Masjid, Langgar dan Musala.(detiknews.com)

Seperti yang telah kita ketahui, hal ini bermula dari seorang warga di daerah Tanjung Balai, Sumatra Utara, Meiliana yang memprotes tentang suara adzan. Yang begitu mengganggu dan memekakan telinga katanya. Sebab itulah, Meiliana akhirnya di vonis 18 bulan penjara, karena komentarnaya tersebut murni penodaan agama.

Namun, setelah penetapan vonis tersebut, ternyata menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat. Islam justru malah menjadi pihak yang tertuduh. Islam di anggap intoleran terhadap kaum minoritas. Masalah ini semakin menambah ketimpangan di masyarakat, apalagi setelah Kemenag meluncurkan aturan tentang pengaturan volume adzan di setiap masjid-masjid.

Sontak saja hal ini, memunculkan berbagai penolakan di berbagai elemen masyarakat. Seperti halnya di Aceh tadi. Sikap yang di tunjukkan, Husaini A Wahab ini, dengan tegas menolak mentah-mentah aturan yang tidak masuk akal ini.

“ Kita minta kepada seluruh Desa untuk mengabaikan itu. Malahan, kalau ada yang melarang harus lebih besar lagi volumenya.” Tegasnya. (viva.co.id)

Terlebih Aceh adalah tempat yang disebut juga sebagai Serambi Mekkah, yang sangat kental keislamanya, tentu akan keberatan bahkan marah jika terkait suara adzan saja mesti di atur, dengan alasan untuk toleransi kaum minoritas. Jika volume speaker pada adzan harus di atur  seberapa keras, maka bagaimana mungkin adzan bisa menjangkau tempat yang lebih luas lagi. Sedangkan Rasul pun memerintahkan ketika adzan harus dengan suara yang di keraskan.

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Malik dari Abdurrahman bin Abdullah bin ‘Abdurrahman bin Abu Sha’sha’ah Al Anshari Al Mazini dari Bapaknya bahwa ia mengabarkan kepadanya, bahwa Abu Sa’id Al Khudri berkata kepadanya, “Aku lihat kamu suka kambing dan lembah (penggembalaan). Jika kamu sedang mengembala kambingmu atau berada di lembah, lalu kamu mengumandangkan adzan shalat, maka keraskanlah suaramu. Karena tidak ada yang mendengar suara mu’adzin, baik manusia, jin atau apapun dia, kecuali akan menjadi saksi pada hari kiamat.” Abu Sa’id berkata, “Aku mendengarnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”(No. Hadist: 574 dari KITAB SHAHIH BUKHARI)

Adzan sudah menjadi kewajiban, atau fardu kifayah  hukumnya bagi kaum muslim, untuk memanggil muslim lain ketika hendak melaksanakan shalat. Maka jelas pengaturan volume adzan atas nama toleransi mendapat banyak penolakan dari berbagai pihak. Terdapat pula kejanggalan dan kesalahpahaman tentang makna toleransi itu sendiri.

Toleransi, bukan berarti harus membatasi diri, karena alasan demi kenyamanan sesama, atau di katakan toleransi itu harus turut andil atau terlibat dalam perayaan di luar agama Islam. Seperti halnya adzan, yang sangat penting dan sangat khas bagi Islam dan tidak bisa di batasi, sesuka hati atas nama toleransi.

Toleransi yang benar itu seperti yang tertera dalam surat Al-Kafirun ayat 6.

لَكُمۡ دِ يۡنُكُمۡ وَ لِيَ دِ يۡنِ

Yang artinya, “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” (Al-Kafirun:6)

Itulah wujud toleransi Islam  dengan bimbingan al qur’an. Tak ada tumpang tindih di masyarakat, pada manyarakat sikap saling menghargai dan menghormati agama-agama yang lainnya justru sangat di anjurkan. Toleransi bukan harus mengikuti atau terlibat dalam perayaan agama lain, tapi toleransi dalam Islam hanya membiarkan saja dan menghargai aktivitas-aktivitas agama lain. Namun Islam selain bersikap toleransi terhadap agama lain, pun seharusnya mendapat hak toleransi tersebut bukan malah di kekang dan terbatas juga dalam beribadah, seperti pengaturan volume azdan tadi.

Sudah selayaknya sikap toleransi ini, terbentuk menjadi karakter pada muslim atau non muslim itu sendiri. Agar perdamaian, kenyamanan, saling menghormati dan menghargai bisa terwujud di masyarakat. Dan tidak akan terwujud kecuali dengan penerapan Islam secara kaffah dan total yang akan memberikan rahmat bagi seluruh alam, baik muslim atau non muslim.

Wallahu’alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.